TLDR
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mendeteksi timbal dalam tinta dapat membantu membaca gulungan papyrus kuno yang terbakar. Teknik pemindaian CT dan pembelajaran mesin telah memungkinkan peneliti untuk 'menggulung' gulungan secara digital tanpa merusaknya. Gulungan dari Herculaneum adalah perpustakaan lengkap yang satu-satunya diketahui dari zaman kuno, memberikan wawasan penting tentang sejarah. Pomodo.id - Mungkin kita akan segera dapat membaca ribuan gulungan kuno yang hilang akibat letusan Vesuvius. Peneliti telah menciptakan gulungan papirus yang terbakar dan menunjukkan bahwa mereka dapat menguraikan teks dengan mendeteksi unsur timbal dalam tinta, berdasarkan studi yang dipublikasikan di PLOS ONE. Hampir 2.000 tahun yang lalu, pada tahun 79 M di kota Herculaneum, Italia, terjadi letusan dahsyat yang menghancurkan kota tersebut, mengubahnya menjadi abu dan memusnahkan penduduk dan benda-benda. Gelombang lumpur vulkanik kemudian mengubur kota itu dan mengkarbonisasi lebih dari 1.000 gulungan papirus rapuh, sekaligus melestarikannya. Ini adalah satu-satunya perpustakaan kuno yang dikenal lengkap dari zaman dahulu.Beberapa gulungan telah berhasil diuraikan secara fisik setelah penemuannya di tahun 1752, tetapi banyak yang hancur dalam proses tersebut. Upaya untuk membaca gulungan-gulungan ini terhenti seiring dengan kerusakan tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi tomografi komputer (CT) — sebuah teknik pencitraan yang dapat membuat model 3D dari dalam objek — dikombinasikan dengan pembelajaran mesin yang memungkinkan para peneliti untuk membuka gulungan secara digital dan memecahkan tulisan di dalamnya. Tahun lalu, dalam upaya signifikan untuk secara virtual membuka dan membaca gulungan-gulungan dari Herculaneum, tim peneliti meraih hadiah sebesar $60.000 dengan menggunakan algoritma untuk mengidentifikasi karya berbahasa Yunani.
Vesuvius Challenge adalah usaha global untuk menguraikan gulungan-gulungan kuno yang terbakar selama letusan Vesuvius. Proyek ini memanfaatkan teknologi terbaru seperti machine learning untuk menganalisis tinta dalam gulungan tersebut. Inisiatif ini penting karena merupakan langkah maju dalam memulihkan suara dan pemikiran dari masa lalu yang terpendam selama ribuan tahun. Banyak orang beranggapan bahwa semua gulungan tersebut sudah tidak lagi bisa dibaca, tetapi penelitian ini menunjukkan kemungkinan baru untuk memulihkan pengetahuan kuno yang hilang.
Perkembangan ini memiliki dampak signifikan bagi orang-orang muda di Indonesia. Selain meningkatkan pemahaman tentang sejarah dan warisan budaya global, kemajuan dalam teknologi pencitraan juga membuka peluang baru untuk karier di bidang teknologi, khususnya dalam ilmu data dan teknik pemrosesan gambar. Keahlian dalam bidang teknologi informasi dan sains data semakin banyak dicari seiring dengan berkembangnya industri digital. Dengan demikian, pemuda Indonesia yang memiliki minat di bidang teknologi diharapkan untuk mengembangkan keterampilan dalam analisis data dan penggunaan perangkat lunak pencitraan maju.Dengan jumlah gulungan yang telah dijelajahi mencapai ribuan, potensi untuk menemukan lebih banyak teks dan pemikiran dari masa lalu sangat besar. Ini tidak hanya memberi pembaca di Indonesia akses kepada pengetahuan yang sudah lama hilang, tetapi juga menciptakan jembatan antara masa lalu dan masa kini. Di era globalisasi ini, hasil penelitian ini meningkatkan wawasan dan keterhubungan kita dengan sejarah kemanusiaan, yang pastinya pantas untuk dipelajari dan dicerna oleh generasi muda Indonesia.