TLDR
China berhasil mengamankan dominasi rantai pasokan rubidium dan cesium. Metode baru ekstraksi logam langka dari limbah lithium meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya. Permintaan untuk logam langka akan meningkat seiring berkembangnya teknologi canggih seperti sel surya perovskite dan jaringan kuantum. Pomodo.id - China telah mengambil langkah signifikan dalam menguasai pasokan rubidium dan cesium dari limbah lithium. Dengan meluncurkan jalur produksi baru yang mampu memproduksi hingga 500 ton bahan ini setiap tahun, pemerintah dan institusi riset di Tiongkok berhasil menjadikan dua elemen ini sebagai produk komersial utama. Produksi ini diakomodasi oleh Lini Produksi 500-ton yang beroperasi dengan stabil di Provinsi Jiangxi, dan hasil ekstraksi yang dihasilkan—serta karbonat rubidium dan karbonat cesium—mencapai tingkat kemurnian lebih dari 99,9 persen.Fasilitas baru ini hasil kolaborasi antara Institut Teknik Proses dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok dan Ganfeng Lithium Group. Sistem ekstraksi yang diterapkan terdiri dari 17 kolom ekstraksi yang terus menerus, yang dirancang untuk memisahkan logam langka dari material sisa selama proses pengolahan lithium. Saat ini, produksi dari jalur demonstrasi ini telah memasuki pasar, dan perolehan tingkat pemulihan juga sangat memadai, yakni melebihi 95 persen untuk rubidium dan 98 persen untuk cesium.Namun, tantangan dalam mendapatkan rubidium dan cesium tetap ada. Kedua logam ini sulit diambil karena jarang terdapat dalam konsentrasi yang cukup untuk menjadi ekonomi yang layak secara mandiri. Rubidium biasanya ditemukan dalam mineral seperti lepidolit, sementara cesium lebih umum dalam mineral pollucite. Meskipun kedua logam ini semakin diminati di sektor teknologi, ketidakpastian dalam pasokan mentah tetap menjadi penghalang.
Rubidium dan cesium adalah logam langka yang memainkan peran penting dalam teknologi modern. Rubidium, terutama, digunakan dalam jam atom yang akurat, dan baik rubidium maupun cesium berfungsi dalam aplikasi teknologi tinggi seperti komunikasi 6G dan infrastruktur kuantum. Dengan meningkatnya permintaan di sektor-sektor tersebut, keberadaan produksi lokal dari Tiongkok meningkatkan posisi strategis mereka di pasar global.
Bagi generasi muda Indonesia, keberhasilan Tiongkok dalam merebut pasokan rubidium dan cesium dapat berdampak pada kesempatan kerja dan investasi di masa depan. Permintaan akan teknologi yang mengandalkan kedua logam ini sangat besar, dan karenanya, sektor seperti penelitian ilmiah serta pengembangan teknologi informasi dan komunikasi bisa mengalami pertumbuhan. Mahasiswa yang mempelajari teknologi atau rekayasa mungkin memiliki peluang untuk berkontribusi dalam pengembangan teknologi ini dan bahkan menemukan jalur karier baru di industri yang sedang berkembang.Transisi Tiongkok ke pemanfaatan limbah lithium dalam proses ekstraksi menunjukkan bahwa ada potensi teknologi besar dalam pengolahan limbah, yang dapat menginspirasi inovasi di sektor-sektor sejenis di Indonesia. Meskipun saat ini belum ada laporan langsung tentang investasi di sektor ini di Indonesia, perkembangan teknologi semacam ini bisa menjadi perhatian bagi startup dan perusahaan yang berfokus pada keberlanjutan dan daur ulang. Hal ini tentunya membuka peluang untuk menghadirkan teknologi baru yang memperbaiki ekonomi dan melestarikan lingkungan di Indonesia.