TLDR
Sebagian besar perusahaan farmasi telah mengadopsi AI dalam penelitian obat, namun hasil yang diharapkan masih diragukan. Hanya 24 persen responden yang percaya bahwa AI akan secara signifikan meningkatkan probabilitas keberhasilan obat. Faktor manusia dan penilaian klinis dianggap tetap sebagai hambatan, terlepas dari penggunaan AI yang meluas. Pomodo.id - Perusahaan farmasi di seluruh dunia semakin menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam penelitian obat, berpotensi mengurangi biaya penemuan obat hingga $26 miliar secara global. Namun, meskipun banyak perusahaan bersemangat untuk menerapkan teknologi ini, hanya sedikit yang optimis AI dapat meningkatkan tingkat keberhasilan obat. Sebuah survei yang dilakukan Citi terhadap 50 eksekutif perusahaan farmasi di AS menemukan bahwa 72 persen responden telah mengadopsi atau merencanakan adopsi AI dalam penelitian dan pengembangan obat mereka.Meskipun 24 persen responden memperkirakan AI dapat memberikan peningkatan signifikan pada probabilitas keberhasilan obat, sebagian besar, yaitu 56 persen, mensinyalir bahwa perubahan yang diharapkan hanyalah moderat dan tidak mengubah seluruh lanskap industri. John Yung, kepala penelitian kesehatan Asia di Citi, menekankan bahwa risiko terbesar bukanlah ketidakmampuan AI untuk mempercepat penemuan obat, tetapi kenyataan bahwa percepatan tersebut tidak menjamin keberhasilan obat. Situation ini menunjukkan tantangan besar bagi industri yang berinvestasi besar-besaran dalam teknologi baru ini.
Kecerdasan Buatan dalam Penemuan Obat
Kecerdasan buatan, atau AI, merupakan teknologi yang meniru proses berpikir manusia untuk mempercepat dan meningkatkan efisiensi dalam berbagai pekerjaan, termasuk penemuan obat. Banyak perusahaan melihatnya sebagai solusi untuk mempercepat proses yang biasanya panjang dan mahal dalam mengembangkan obat. Namun, penggunaan AI juga menimbulkan tantangan, seperti membuktikan bahwa kecepatan tersebut dapat ditransformasikan menjadi produk yang berhasil dan aman.
Bagaimana semua ini berdampak pada generasi muda di Indonesia? Dalam konteks karier, profesi yang berkaitan dengan AI dan bioteknologi diharapkan meningkat seiring dengan berkembangnya teknologi ini. Bagi mahasiswa dan para lulusan baru, keterampilan di bidang analisis data dan pemrograman menjadi semakin relevan, karena banyak perusahaan mencari individu yang mampu bekerja dengan sistem AI dalam konteks kesehatan. Selain itu, investasi yang dilakukan di sektor kesehatan melalui adopsi AI dapat membuka peluang baru dalam industri pengembangan obat, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia.Namun, tantangan tetap ada. Proses penemuan obat yang mahal dan lama, yang sering memakan waktu hingga satu dekade dengan biaya rata-rata lebih dari $2 miliar, menunjukkan bahwa meskipun AI dapat menawarkan kecepatan, kontribusinya terhadap keberhasilan obat di pasar masih harus dibuktikan. Ini berarti bahwa meskipun ada peningkatan adopsi teknologi dan potensi penghematan biaya, generasi muda Indonesia harus bersiap menghadapi realitas bahwa tidak semua inovasi teknologi menjamin hasil yang diinginkan dalam praktek.Dengan demikian, pemahaman yang mendalam tentang teknologi yang sedang berkembang dan keterampilan yang relevan menjadi sangat penting bagi mereka yang ingin terjun ke industri ini. Masyarakat Indonesia perlu terus memantau perkembangan ini, karena keberhasilan teknologi dalam meningkatkan hasil kesehatan dan keberhasilan obat akan sangat tergantung pada seberapa baik sektor ini dapat menerjemahkan inovasi menjadi aplikasi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.