TLDR
Z.ai dan MiniMax diperkirakan akan tetap merugi hingga 2030 meskipun pendapatannya meningkat. Kekurangan daya komputasi di Cina lebih parah dibandingkan dengan kekurangan global, dipengaruhi oleh pembatasan AS terhadap Nvidia. Estimasi pendapatan tahunan berulang (ARR) untuk Z.ai bisa mencapai sekitar 3 miliar USD, meskipun Macquarie Group tetap konservatif dalam proyeksi mereka. Pomodo.id - Perusahaan teknologi kecerdasan buatan (AI) Tiongkok, Z.ai dan MiniMax, diperkirakan akan tetap merugi hingga tahun 2030 meskipun pendapatannya mengalami lonjakan yang signifikan. Hal ini diungkapkan oleh Ellie Jiang, kepala riset internet dan perangkat lunak Asia dari Macquarie Group. Menurutnya, biaya untuk daya komputasi yang diperlukan dalam pelatihan dan pengoperasian model frontier AI sangat besar. Khususnya di Tiongkok, kekurangan dalam kemampuan komputasi jauh lebih parah dibandingkan dengan kekurangan di skala global, yang dihadapi oleh pengembang lokal akibat pembatasan AS terhadap prosesor canggih dari Nvidia.Z.ai, yang dikenal juga sebagai Zhipu AI, baru-baru ini melaporkan lonjakan pendapatan hampir 400 persen pada paruh pertama tahun 2026, mencapai 953,9 juta yuan (sekitar US$142 juta). Sebaliknya, MiniMax mencatatkan pertumbuhan pendapatan 283 persen menjadi US$116,6 juta. Dengan melihat angka-angka ini, meskipun pendapatan menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan, perusahaan-perusahaan ini masih harus berjuang dengan kesulitan biaya operasional yang tinggi. Jiang menjelaskan bahwa Macquarie masih memperkirakan kerugian bagi kedua perusahaan tersebut hingga tahun 2030 dengan harapan yang konservatif meskipun ada proyeksi pertumbuhan pendapatan tahunan yang berulang semakin cepat, mencapai sekitar US$2,4 miliar untuk Z.ai.Namun, terdapat tantangan yang dihadapi Z.ai dan MiniMax. Sementara Z.ai menunjukkan performa model yang lebih baik yang membuatnya diterima dengan baik oleh analis pasar, MiniMax dihadapkan pada keraguan mengenai kemampuan teknisnya, serta pertanyaan tentang proyeksi pertumbuhannya. Ini menciptakan jurang komersial yang semakin lebar antara keduanya, yang akan memengaruhi posisi mereka di pasar di masa depan. Pendapatan annual recurring (ARR) Z.ai mencapai US$1,6 miliar, sedangkan MiniMax masih jauh di bawah angka tersebut.
Annual Recurring Revenue (ARR)
ARR adalah ukuran yang menggambarkan pendapatan yang dapat diproyeksikan perusahaan berdasarkan langganan saat ini dalam periode satu tahun. Ini penting karena memberikan gambaran yang lebih stabil tentang kesehatan keuangan perusahaan, terutama perusahaan yang beroperasi dalam model berlangganan. Meskipun ada pertumbuhan di kedua perusahaan, ARR Z.ai jauh lebih tinggi dibandingkan dengan MiniMax, menunjukkan potensi pendapatan yang lebih besar ke depan jika berhasil menarik lebih banyak pelanggan.
Kondisi ini memberikan gambaran tentang tantangan yang akan dihadapi individu muda di Indonesia yang tertarik untuk berkarir di industri teknologi. Sektor AI, meskipun berkembang pesat, menghadapi risiko besar. Hal ini dapat memengaruhi jenis pekerjaan yang tersedia di masa depan, serta keterampilan yang diperlukan untuk dapat bersaing. Meskipun terdapat peluang di industri ini, menjadi jelas bahwa bagi mahasiswa atau lulusan baru, memahami dinamika pasar dan mempersiapkan diri dengan keterampilan yang relevan, seperti pemahaman mendalam tentang sistem kecerdasan buatan dan kapasitas teknis, akan sangat penting.Mengamati perkembangan ini, mahasiswa dan profesional muda Indonesia mungkin perlu menyesuaikan ekspektasi mereka terkait pekerjaan di sektor teknologi, termasuk AI. Terutama bagi mereka yang bercita-cita masuk ke dunia kerja yang berhubungan dengan teknologi, penting untuk tetap memperbaharui keterampilan dan mengikuti tren terbaru dalam kecerdasan buatan. Selain itu, penting juga untuk mempertimbangkan tantangan finansial yang dihadapi oleh perusahaan AI, karena ini bisa memperngaruhi peluang kerja di sektor tersebut dalam jangka panjang.