TLDR
Stony Brook University sedang mengembangkan Digital Twin Studio untuk mensimulasikan skenario krisis pada jaringan listrik. Proyek ini berpotensi meningkatkan keamanan dan efisiensi infrastruktur energi dengan menggunakan analitik AI dan sensor IoT. Studio ini juga berfungsi sebagai tempat pelatihan untuk mempersiapkan generasi insinyur berikutnya dalam mempertahankan infrastruktur kritis. Pomodo.id - Para pengelola jaringan listrik di Stony Brook University sedang mengembangkan sebuah studio digital yang canggih untuk menciptakan replika virtual dari jaringan distribusi listrik. Melalui platform ini, mereka dapat mensimulasikan berbagai situasi ekstrem, seperti badai menghancurkan, serangan siber, atau lonjakan mendadak dalam penggunaan kendaraan listrik. Dengan begitu, insinyur tidak hanya dapat memprediksi risiko, tetapi juga mencegah terjadinya masalah sebelum benar-benar terjadi.Proyek ini dipimpin oleh Center for Grid Innovation Development and Deployment (GrIDD) dalam kerangka Advanced Energy Research and Technology Center (AERTC). Ini merupakan langkah signifikan dalam menjaga infrastruktur publik yang vital, di mana penggunaan teknologi simulasi dapat dilakukan tanpa menimbulkan risiko nyata. Ujian ini bertujuan untuk memberikan arena aman bagi para insinyur untuk menguji efek dari berbagai bencana tanpa takut akan pemadaman listrik yang dapat merugikan banyak orang.Akibat perubahan iklim yang mendorong munculnya cuaca ekstrem, dan transisi masyarakat menuju sumber energi terbarukan serta kendaraan listrik, jaringan listrik modern menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebuah percikan tegangan lokal atau sebatang dahan pohon yang jatuh bisa memicu pemadaman luas. Dengan teknologi digital twin ini, penyedia layanan energi memperoleh kesempatan untuk melakukan pengujian secara real-time dengan memadukan data dari operasi langsung, simulasi berbasis fisika, dan kecerdasan buatan.[cards: Digital Twin] Digital twin adalah representasi virtual dari sistem atau entitas fisik yang memungkinkan pengguna untuk melakukan simulasi dan analisa tanpa risiko nyata. Pada proyek di Stony Brook, digital twin digunakan untuk mereplikasi jaringan listrik, memberi insinyur pengalaman untuk mengantisipasi dan mencegah kegagalan dan kerusakan yang mungkin timbul. Dengan memanfaatkan solusi seperti ini, tidak hanya infrastruktur yang akan lebih aman, tetapi tahap pengambilan keputusan akan lebih informasi dan akurat.Realitas bahwa kita hidup di dunia yang semakin berisiko memunculkan kebutuhan mendesak akan teknologi seperti ini, terutama di Negara seperti Indonesia, di mana pemadaman listrik masih menjadi masalah umum. Jika saat ini risiko sistem kelistrikan bisa lebih terukur, hal ini akan membantu dalam perencanaan dan pengelolaan energi yang lebih baik di masa depan. Dengan hampir 550.000 dolar AS (sekitar Rp 8,3 miliar) sudah dikamankan, dan tambahan 300.000 dolar AS (sekitar Rp 4,5 miliar) yang akan datang, proyek ini bergerak dengan cepat menuju tahap implementasi.Kemajuan ini menjanjikan dampak yang positif terhadap karir para pemuda di Indonesia. Dengan berkembangnya kebutuhan akan insinyur dan ahli data yang paham teknologi digital twin dan simulasi, alumni institusi pendidikan tinggi di Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan keterampilan yang relevan dalam bidang ini. Keahlian dalam menganalisis dan memanfaatkan data real-time untuk meningkatkan infrastruktur kelistrikan dapat menjadi nilai jual yang tinggi di pasar kerja mendatang.Di masa depan, dengan pengetahuan dan keahlian yang diperoleh dari teknologi seperti digital twin, generasi muda di Indonesia tidak hanya akan berperan dalam memperbaiki keadaan pelistrikan, tetapi juga dalam menciptakan solusi inovatif untuk tantangan lain di sektor energi, teknologi, dan rekayasa. Oleh karena itu, integrasi pengetahuan mengenai digital twin dalam kurikulum pendidikan di Indonesia dapat memperkuat posisi negara dalam adopsi teknologi baru dan ketahanan energi.