TLDR
Digital twins can mimic human behavior but often distort responses, leading to inaccuracies. AI surrogates can provide detailed responses but may lack the nuances of human experience. Researchers should manage expectations regarding the use of synthetic data in social sciences. Pomodo.id - Digital twins AI diharapkan dapat menggantikan subjek manusia dalam penelitian sosial. Ide utama dari penggunaan digital twins adalah untuk mengurangi biaya dan dampak emosional yang sering dialami oleh subjek manusia dalam penelitian. Subjek manusia sering kali mahal dan dapat mengalami kelelahan serta stres psikologis akibat partisipasi dalam studi. Namun, harapan ini menghadapi tantangan yang signifikan, karena hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa digital twins justru dapat menciptakan efek distorsi pada pandangan mereka, mirip dengan "cermin menyimpang", yang membuat hasilnya kurang akurat.Penelitian yang dilaporkan oleh Olivier Toubia dari Columbia Business School melibatkan lebih dari 2.000 individu di seluruh Amerika Serikat, di mana mereka menjawab lebih dari 500 pertanyaan tentang berbagai karakteristik sosial seperti usia, etnis, dan kebiasaan berbelanja. Banyak dari pertanyaan ini diambil dari skala yang umum digunakan dalam penelitian psikologi dan ekonomi. Walaupun upaya pembuatan dataset terbuka ini ditujukan untuk memudahkan penggunaan digital twins oleh peneliti lain, hasil yang diperoleh selama uji coba menunjukkan bahwa performa digital twins lebih mengecewakan daripada yang diharapkan.Berdasarkan pada temuan ini, penting untuk memperhatikan bahwa meskipun ada potensi untuk menggantikan subjek manusia dengan digital twins dalam beberapa konteks, kondisi tersebut tidak serta merta berarti hasil yang diperoleh akan akurat atau berkualitas tinggi. Ketidakakuratan ini menunjukkan bahwa lebih banyak penelitian masih diperlukan untuk memahami dan mengembangkan teknik digital twins sebelum penerapannya dapat dianggap valid dalam penelitian sosial. Selain itu, terdapat risiko jika digital twins tidak sepenuhnya merepresentasikan perilaku manusia yang kompleks dan beragam.
Digital twins adalah representasi virtual dari individu atau objek fisik yang bertujuan untuk mensimulasikan perilaku mereka dalam konteks penelitian. Mereka bisa digunakan untuk berbagai aplikasi, tetapi masih banyak yang perlu dipelajari untuk mengoptimalkan efektivitasnya dalam penelitian sosial. Mispersepsi umum adalah bahwa digital twins sepenuhnya dapat menggantikan interaksi manusia; padahal, mereka masih memiliki keterbatasan dalam akurasi.
Penerapan digital twins di masa depan bisa berimplikasi besar bagi para peneliti muda di Indonesia, khususnya untuk penelitian sosial dan pemasaran. Dengan meningkatnya penggunaan teknologi ini, ada potensi bagi para profesional muda untuk bekerja di bidang yang mengembangkan dan menggunakan teknologi AI, seperti dalam penelitian pemasaran atau pengembangan produk, yang saat ini menjadi tren dalam industri. Namun, jika digital twins tidak dapat memberikan hasil yang akurat, maka hal ini dapat mempengaruhi keputusan investasi yang dibuat oleh perusahaan dan lembaga di Indonesia.Bagi generasi muda yang sedang mempersiapkan karir mereka, penting untuk memahami perkembangan teknologi ini dan bagaimana teknologi baru dapat berpengaruh pada masa depan pasar kerja. Sebagai contoh, kemampuan untuk menggunakan dan memahami digital twins dalam penelitian dapat menjadi keterampilan yang sangat dicari, terutama dalam sektor-sektor yang berhubungan dengan data dan pengambilan keputusan berbasis bukti. Oleh karena itu, pelatihan dan pendidikan di bidang AI dan teknologi informasi menjadi semakin relevan untuk mempersiapkan diri mereka menghadapi tantangan dan peluang yang ada di pasar kerja yang terus berkembang.