TLDR
Kedepannya, sistem penyesuaian waktu mungkin akan beralih dari leap second ke leap hour untuk menghindari gangguan pada infrastruktur kritis. Ada kemungkinan 30% bahwa leap second negatif akan diperlukan sebelum tahun 2035, yang dapat menyebabkan risiko baru bagi sistem komputer. Perubahan sistem waktu menjadi leap hour dianggap lebih mudah dikelola karena orang sudah familiar dengan perubahan waktu seperti daylight-saving time. Pomodo.id - Kemungkinan penghapusan leap second dapat segera terjadi demi mencegah gangguan besar pada sistem waktu dunia. Leap second, yang merupakan penyesuaian waktu yang dilakukan oleh negara-negara sejak tahun 1972, sebelumnya dijadwalkan akan berakhir pada tahun 2035. Namun, karena potensi leap second berikutnya yang bersifat negatif—di mana jam tidak hanya menambah, tetapi malah akan melewatkan satu detik—penyelesaian masalah ini dipertimbangkan untuk dilakukan lebih awal. Jika hal ini terjadi, akan ada dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya pada sistem komputasi yang membutuhkan ketepatan waktu untuk berfungsi dengan benar.Statistik menunjukkan bahwa sudah 27 kali Earth menambahkan leap second dalam Coordinated Universal Time (UTC) sejak 1970-an. Penyesuaian ini memastikan bahwa UTC, yang diatur menggunakan jam atom, tetap selaras dengan pergerakan alami rotasi planet kita. Namun, pengenalan leap second, terakhir kali dilakukan pada tahun 2016, dapat mengganggu sistem infrastruktur penting seperti jaringan listrik, telekomunikasi, dan sistem keuangan, yang sangat bergantung pada sinkronisasi waktu untuk berfungsi secara efisien.
Leap second adalah satu detik tambahan yang ditambahkan ke sistem waktu untuk menjaga keselarasan dengan rotasi Bumi. Meskipun ini adalah kebijakan internasional yang telah dilakukan selama beberapa dekade, kini para pengelola waktu di seluruh dunia mulai mempertimbangkan untuk menghapusnya demi menghindari masalah besar yang bisa muncul dari penyesuaian waktu yang kompleks. Ketika sistem komputer modern semakin bergantung pada waktu yang tepat, potensi untuk memperkenalkan kekacauan melalui leap second negatif sangat mengkhawatirkan.
Apabila penghapusan leap second dilakukan, ini dapat memberikan dampak signifikan terhadap generasi muda di Indonesia. Di era digital saat ini, pekerjaan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi semakin berkembang. Banyak perusahaan Indonesia juga mulai mengadopsi teknologi yang bergantung pada ketepatan waktu, seperti sistem pembayaran digital dan infrastruktur telekomunikasi. Jika karya digital dan layanan berbasis teknologi tidak berfungsi dengan baik akibat penyesuaian waktu yang rumit, ini bisa mengancam banyak pekerjaan dan inovasi yang signifikan.Meskipun penghapusan leap second tidak akan serta merta memengaruhi kehidupan sehari-hari di Indonesia, perubahan sistem waktu ini mencerminkan perkembangan signifikan dalam cara dunia beroperasi. Oleh karena itu, mahasiswa atau fresh graduate yang bercita-cita berkarir di bidang teknologi harus memperhatikan perubahan ini. Para profesional perlu memiliki pemahaman yang baik tentang bagaimana sistem waktu berfungsi dan mengedepankan keterampilan yang relevan dalam bidang teknologi dan komputasi untuk tetap bersaing di pasar global. Hal ini juga memberikan pemahaman bahwa adaptasi terhadap perubahan teknologis menjadi penting, terutama ketika industri baru yang bergantung pada teknologi mendominasi pasar kerja.