TLDR
Singapura memiliki harapan hidup tertinggi di dunia tetapi mengalami peningkatan dalam kesenjangan morbiditas. Perempuan di Singapura hidup lebih lama tetapi menghabiskan lebih banyak tahun dalam keadaan sakit dibandingkan pria. Pentingnya sistem kesehatan untuk tidak hanya mencegah kematian, tetapi juga memastikan kualitas hidup yang baik bagi individu yang lebih tua. Pomodo.id - Singapura telah berhasil mencatat harapan hidup tertinggi di dunia, mencapai rata-rata 87,5 tahun. Namun, warga negara ini kini menghabiskan lebih banyak waktu dalam keadaan sakit atau mengalami disabilitas daripada sebelumnya. Penelitian global yang dipimpin oleh Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) dari Universitas Washington, berkolaborasi dengan Yong Loo Lin School of Medicine di National University of Singapore, menunjukkan adanya peningkatan jarak morbiditas — selisih antara total tahun hidup dan tahun hidup sehat. Sejak 1990, jarak morbiditas di Singapura telah meningkat sekitar 2,35 tahun, mewakili kenaikan sebesar 26,6 persen, sementara peningkatan global berada pada angka 21,9 persen.Sementara Singapura telah menciptakan kemajuan signifikan dalam mencegah kematian dini dan memperpanjang usia hidup, penelitian ini menunjukkan bahwa negara tersebut belum cukup efektif dalam mengurangi beban penyakit kronis dan disabilitas yang dialami warga selama masa lanjut usia. Marie Ng, seorang Profesor di National University of Singapore, menyatakan bahwa prestasi ini menjadi tantangan bagi Singapura untuk tidak hanya menambah tahun hidup, tetapi juga mengecilkan beban penyakit yang menyertai.Namun, bukti-bukti menunjukkan bahwa meskipun Singapura menduduki peringkat atas dalam harapan hidup, terdapat lonjakan signifikan dalam jumlah tahun yang dihabiskan dengan kesehatan yang buruk. Kita harus memperhatikan bahwa peningkatan dalam harapan hidup tidak selalu diiringi dengan peningkatan kualitas hidup. Hal ini berarti bahwa lebih banyak individu mengalami penyakit kronis yang memperparah kualitas hidup mereka, meskipun mereka hidup lebih lama.Menghadapi situasi ini, ada beberapa implikasi yang harus diperhatikan oleh generasi muda di Indonesia. Dengan tingginya prevalensi penyakit kronis di negara-negara maju seperti Singapura, hal ini mengindikasikan bahwa ada kebutuhan mendesak untuk memperkuat sistem kesehatan di Indonesia. Bagi mahasiswa atau calon profesional di bidang kesehatan, ada peluang besar untuk terlibat dalam penelitian dan pengembangan solusi kesehatan. Mengingat bahwa perawatan penyakit kronis sering kali memerlukan perhatian khusus, karier di bidang kesehatan dan teknologi kesehatan dapat menjadi pilihan yang menjanjikan ke depannya.
Jarak morbiditas adalah selisih antara total tahun hidup seseorang dan tahun hidup yang dihabiskan dalam kondisi sehat. Ini adalah metrik penting untuk memahami kualitas kesehatan: semakin besar jarak ini, semakin besar jumlah tahun yang dihabiskan dalam kondisi sakit. Dengan meningkatnya jarak ini di Singapura, pertanda bahwa meskipun maju dalam harapan hidup, kualitas sehat yang dialami menurun. Ini penting, karena memberikan gambaran tentang tantangan yang harus dihadapi sistem kesehatan dalam mempromosikan hidup sehat di masa tua.
Dalam konteks Indonesia, pelajaran dari Singapura harus mendorong perhatian lebih terhadap pencegahan dan pengelolaan penyakit kronis. Hal ini dapat memengaruhi bagaimana pendidikan di bidang kesehatan disusun dan juga cara individu mempersiapkan diri untuk karir di sektor kesehatan. Melihat potensi pertumbuhan di sektor ini, serta perhatian yang meningkat terhadap gaya hidup sehat, berarti ada peluang untuk investasi dalam kesehatan dan teknologi yang dapat bermanfaat bagi generasi muda di Indonesia. Ke depan, menjaga keseimbangan antara peningkatan harapan hidup dan kualitas hidup menjadi sangat penting: kehidupan yang panjang tidak berharga jika diisi dengan kesakitan dan penyakit.