TLDR
Mikroba dapat bertahan di kutub selatan bulan, meskipun tidak dapat berkembang biak. Aspergillus niger adalah mikroba paling tahan yang mampu bertahan lebih dari seminggu di kondisi bulan. Protokol dekontaminasi yang baik diperlukan untuk mencegah kontaminasi dalam misi eksplorasi bulan dan Mars. Pomodo.id - Mikroba tertentu yang dapat bertahan hidup di bulan berpotensi menjadi masalah dalam misi luar angkasa mendatang. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa mikroba dan jamur yang biasanya ditemukan pada manusia dapat bertahan di Kutub Selatan Bulan, lokasi yang menjadi target misi Artemis IV yang dijadwalkan pada tahun 2028. Penelitian ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan risiko kontaminasi ketika menjelajahi area yang dapat mendukung kehidupan mikroba.Para peneliti dari NASA menemukan bahwa beberapa spesies mikroba dapat tetap hidup dalam kondisi lingkungan di Kutub Selatan Bulan, yang memiliki sudut cahaya yang lebih rendah dibandingkan dengan ekuator bulannya. Dalam penelitian ini, mikroba yang diuji berhasil bertahan setidaknya 24 jam di area tertentu di kutub. Mikroba yang paling kuat adalah Aspergillus niger, jamur yang umum dijumpai di lingkungan domestik seperti kamar mandi. Temperaturnya yang ekstrem dan sedikit paparan radiasi UV di wilayah ini menciptakan kondisi mirip dengan apa yang dibutuhkan untuk mengawetkan mikroba.Risiko kontaminasi ini memunculkan perhatian yang lebih besar terhadap misi luar angkasa, saat mikroba manusia dapat terbawa dalam misi yang bertujuan untuk eksplorasi dan penelitian. Meski keberadaan mikroba ini bisa berpotensi memperkaya pemahaman kita tentang bentuk kehidupan di luar angkasa, hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang integritas ilmiah dan potensi dampak pada ekosistem bulan yang belum tersentuh.
Mikroba di luar angkasa, seperti Aspergillus niger, adalah organisme sederhana yang dapat bertahan dalam kondisi ekstrem. Hal ini penting karena mereka dapat mengungkapkan potensi adanya kehidupan di planet lain serta tantangan dalam kontaminasi di lingkungan luar angkasa. Ide bahwa mikroba bisa membawa dampak terhadap ekosistem luar angkasa merupakan tantangan bagi para ilmuwan ketika merencanakan misi mendatang.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa bagi para pemuda di Indonesia, ada peluang untuk terlibat dalam bidang penelitian ruang angkasa, terutama dalam studi mikrobiologi dan astrobiologi. Dengan meningkatnya investasi dalam program luar angkasa dan kolaborasi internasional, ada potensi untuk masuknya peluang karir baru dan inovasi teknologi. Selain itu, pemahaman yang lebih baik tentang mikroba bisa mengarah pada pengembangan teknologi baru yang dapat digunakan untuk eksplorasi dan bahkan pengembangan biosfera di luar angkasa.Penting untuk disadari bahwa meskipun penelitian ini membuka jalan bagi penemuan baru, juga ada tantangan yang harus dihadapi. Kontaminasi mikroba adalah isu yang kompleks dan harus ditangani secara serius dalam misi luar angkasa masa depan. Bagi Indonesia, yang berupaya memperkuat posisinya dalam teknologi dan penelitian luar angkasa, penelitian ini menjadi langkah penting dalam mengeksplorasi potensi kita di bidang yang mulai berkembang ini.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 26 Agu 2026, 19.06 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)