TLDR
Studi terbaru memberikan upaya yang serius untuk menghitung prevalensi CTE di kalangan pemain NFL. Penelitian sebelumnya tidak memberikan informasi tentang seberapa umum CTE di antara pemain NFL. Pentingnya membangun 'denominator' dalam penelitian CTE untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang penyakit ini. Pomodo.id - Studi terbaru menunjukkan bahwa prevalensi penyakit CTE (Chronic Traumatic Encephalopathy) di kalangan pemain NFL mungkin jauh lebih tinggi daripada yang sebelumnya diperkirakan. Penelitian yang dilakukan oleh Daneshvar dan rekan-rekannya dari Mass General Brigham serta Boston University merupakan upaya pertama yang serius untuk membangun "denominator" atau jumlah pemain yang terpengaruh, setelah sebelumnya data mengenai otak yang terlibat tidak dapat menghitung secara akurat jumlah pemain NFL yang terlibat.Dalam sebuah studi yang dirilis di The BMJ, ditemukan bahwa lebih dari 90% otak yang dianalisis dari 376 mantan pemain NFL menunjukkan tanda-tanda CTE. Temuan ini merupakan pencapaian signifikan dalam ilmu kedokteran yang dapat membantu memahami pengaruh yang ditimbulkan oleh trauma kepala berulang yang sering dialami oleh pemain sepak bola. Sebelumnya, studi tahun 2017 yang dipublikasikan di JAMA menunjukkan bahwa 110 dari 111 otak yang didonasikan memiliki CTE, memperlihatkan betapa nyata dan meluasnya penyakit ini, tetapi tidak memberikan data konklusif tentang seberapa umum penyakit ini di antara para pemain NFL.Namun, keterbatasan tetap ada. Sebelum penelitian ini, masih ada keraguan tentang seberapa jauh hasil temuan dapat diaplikasikan pada populasi yang lebih luas, karena sebelumnya tidak ada data yang memadai mengenai jumlah pemain yang terpengaruh. Misinterpretasi dari studi sebelumnya sering kali menyebabkan pernyataan yang berlebihan tentang prevalensi CTE di kalangan pemain NFL.Dari perkembangan ini, penting bagi para pemuda di Indonesia untuk menyadari adanya risiko kesehatan yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas olahraga, khususnya yang melibatkan kontak fisik seperti sepak bola. Dengan memahami lebih baik tentang CTE, yang berhubungan dengan pneumonia neurodegeneratif, individu bisa lebih sadar akan pentingnya keselamatan dalam berolahraga dan potensi konsekuensi kesehatan jangka panjang dari cedera otak.
CTE adalah penyakit neurodegeneratif yang biasanya berkembang setelah mengalami cedera kepala berulang. Penyakit ini sering kali terjadi pada atlet yang terlibat dalam olahraga kontak. Meskipun CTE sulit didiagnosis pada hidupnya, penelitian terbaru menunjukkan terdapat biomarker, seperti eMTBR-tau243, yang bisa membantu dalam diagnosis dan memungkinkan langkah-langkah pencegahan diambil untuk melindungi atlet. Kesadaran dan pelatihan mengenai cedera kepala di kalangan pelatih dan atlet harus ditingkatkan agar mereka dapat mengurangi risiko CTE di kemudian hari.
Kita harus mulai memperhatikan perkembangan di bidang kesehatan otak ini, terutama mengingat prevalensi CTE di kalangan mantan atlet dalam olahraga berkontak. Selain itu, isu kesehatan ini berkaitan erat dengan perhatian yang lebih luas mengenai cara pengelolaan dan pencegahan cedera di arena olahraga, yang dapat membentuk paradigma baru dalam pembinaan olahraga di Indonesia. Ke depannya, pemuda yang berkarir di bidang medis atau terkait dengan olahraga berpotensi besar untuk menciptakan inovasi dalam pencegahan dan pengobatan cedera otak.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 26 Agu 2026, 01.07 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)