TLDR
Konsumsi gula berlebih pada 1.000 hari pertama kehidupan dapat meningkatkan risiko demensia di kemudian hari. Rasionalisasi gula selama masa bayi dapat mengurangi risiko demensia dan Alzheimer. Mengurangi gula tambahan dalam pola makan anak adalah langkah yang bijak untuk kesehatan mereka. Pomodo.id - Konsumsi gula berlebih selama masa bayi memiliki implikasi jangka panjang bagi kesehatan otak, menurut sebuah studi baru. Para ilmuwan menemukan bahwa terlalu banyak gula dalam dua tahun pertama kehidupan dapat meningkatkan risiko demensia di masa tua. Penelitian yang dipublikasikan dalam Neurology pada 25 Agustus menunjukkan bahwa selama 1.000 hari pertama kehidupan, otak mengalami pertumbuhan dan perkembangan neuron yang sangat cepat. Ini adalah fase kritis yang memengaruhi kesehatan otak di masa depan.Dalam penelitian ini, ilmuwan menganalisis data dari hampir 65.000 orang yang lahir di Inggris antara tahun 1942 dan 1954. Pada waktu itu, kebijakan pemerintah Inggris membatasi konsumsi gula yang dapat dibeli per harinya, yakni sebesar 41 gram — setara dengan kadar gula dalam satu kaleng minuman manis, seperti Coca-Cola. Penelitian ini dilakukan oleh Jiazhen Zheng, seorang epidemiolog, yang sebelumnya mendalami dampak gula terhadap kesehatan jantung. Dia memperluas studinya untuk menyelidiki bagaimana pengaruh gula dapat menjangkau kesehatan otak.Walaupun hasil penelitian ini belum menjadi pedoman pasti dalam kebijakan diet anak-anak, ada keterbatasan dalam data yang ada. Penelitian ini hanya mencakup populasi tertentu di Inggris selama rentang waktu tertentu. Belum ada cukup bukti untuk mengeneralisasi temuan ini ke berbagai populasi, termasuk di Indonesia. Selain itu, banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi kesehatan otak, seperti lingkungan, pendidikan, dan gaya hidup.Perkembangan ini tentu saja membuat orang tua perlu lebih memperhatikan pola makan anak mereka. Dalam konteks Indonesia, pola konsumsi yang sehat bisa menjadi lebih kritis, mengingat produk makanan dan minuman manis sangat mudah diakses dan sering dijadikan pilihan bagi anak-anak. Konsumsi gula yang berlebihan dalam jangka panjang tidak hanya bisa meningkatkan risiko diabetes dan tekanan darah tinggi, tetapi juga mempengaruhi kesehatan mental dan kognitif mereka di kemudian hari.
1.000 Hari Pertama Kehidupan
Periode satu tahun pertama kehidupan anak sangat krusial untuk perkembangan otak. Selama periode ini, otak mengalami pertumbuhan yang cepat dan sensitifan terhadap berbagai faktor eksternal, termasuk pola makan. Kekurangan zat gizi esensial atau konsumsi berlebih dari makanan tidak sehat dapat memengaruhi perkembangan kognitif anak, yang pada akhirnya berdampak pada kemampuan belajar dan kesehatan mental di masa dewasa. Pola makan sehat di usia dini sangat penting untuk mencegah masalah kesehatan di kemudian hari, termasuk risiko demensia.
Sementara di Indonesia, tingkat kesadaran akan pentingnya pola makan sehat masih perlu ditingkatkan, terutama di kalangan orang tua. Kebiasaan memberi anak minuman manis dan makanan tinggi gula dapat memiliki konsekusi yang lebih jauh daripada sekadar perubahan sementara dalam perilaku mereka. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang dampak jangka panjang dari konsumsi gula, keluarga mungkin perlu mempertimbangkan opsi yang lebih sehat di pasar makanan dan minuman. Sebagai contoh, mengganti soda dengan air mineral atau jus alami bisa menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan anak-anak serta mengurangi risiko serius di kemudian hari.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 25 Agu 2026, 19.06 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)