TLDR
Penggunaan AI dalam penulisan ilmiah diperkirakan jauh lebih tinggi dari yang dipikirkan sebelumnya. Model bahasa besar lebih sering digunakan di bagian abstrak, pengantar, dan diskusi daripada di bagian metode dan hasil. Ada kekhawatiran bahwa penggunaan LLM dalam penulisan hasil dapat menyebabkan data yang tidak akurat atau 'halusinasi'. Pomodo.id - Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam penulisan paper ilmiah telah menunjukkan peningkatan signifikan selama tahun 2025, menandakan perubahan besar dalam cara peneliti menghasilkan karya mereka. Sebuah studi menunjukkan bahwa hampir sembilan dari sepuluh paper yang diterbitkan pada bulan Desember 2025 di dalam basis data artikel biomedis utama menunjukkan tanda-tanda penggunaan AI dalam penulisannya. Hal ini menjadi indikator jelas bahwa teknologi ini semakin diterima dan dimanfaatkan dalam dunia akademis, yang sebelumnya diperkirakan hanya teraplikasi dalam kapasitas terbatas.Dalam analisis tersebut, sekitar 77% dokumen yang diarsipkan dalam PubMed Central menggunakan model bahasa besar (Large Language Models, LLM) untuk membantu penulisan mereka. Angka ini melonjak dibanding angka sebelumnya, yang tercatat hanya 52% pada tahun 2024. Selain itu, sebuah penelitian di tahun 2026 menemukan bahwa 57% dari keseluruhan paper tahun 2025 kemungkinan dipengaruhi oleh AI. Data ini sangat mencolok mengingat estimasi di tahun-tahun sebelumnya hanya memberikan angka sekitar 13,5% untuk pengaruh AI dalam ringkasan konferensi ilmiah.
Model Bahasa Besar merupakan sistem AI yang dilatih dengan data teks yang sangat besar untuk memahami dan menghasilkan bahasa seperti manusia. Teknologi ini penting karena dapat membantu peneliti dalam menyusun argumen, menemukan kata kunci, dan membuat struktur tulisan yang lebih rapih. Banyak yang beranggapan bahwa AI akan mengambil alih semua aspek penulisan, tetapi kenyataannya, AI lebih tepatnya berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti pemikiran kritis penulis.
Meskipun pertumbuhan penggunaan AI dalam tulisan ilmiah ini mengesankan, ada beberapa keraguan dan tantangan yang harus diperhatikan. Beberapa peneliti meragukan akurasi angka yang dihasilkan, sebab mereka khawatir bahwa pengukuran yang dilakukan dalam studi terbaru mungkin tidak mencakup semua variabel yang relevan. Ini menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk penyempurnaan dalam pendokumentasian dan analisis penerapan AI dalam konteks riset.Perkembangan ini membawa implikasi signifikan bagi generasi muda di Indonesia. Di dunia yang semakin bersandar pada teknologi, kemampuan untuk menggunakan AI dan model bahasa besar dapat menjadi skill yang sangat dicari di pasar kerja. Pengetahuan dalam memanfaatkan AI untuk penulisan akademik tidak hanya akan meningkatkan kualitas penelitian tetapi juga membuat CV lebih menarik bagi calon pemberi kerja. Dengan adopsi AI yang meluas di bidang akademis, lulusan baru diharapkan bisa siap berkompetisi di panggung global dan memiliki keunggulan dalam tabisynya.Dalam konteks Indonesia, penerapan AI dalam penulisan akademis bisa membantu meningkatkan kualitas riset lokal, memungkinkan peneliti untuk menghasilkan karya yang lebih relevan dan terstandarisasi. Ini adalah langkah penting dalam mendukung pertumbuhan ekosistem penelitian ilmiah di Indonesia, suatu hal yang sangat berharga di tengah upaya untuk meningkatkan daya saing di arena internasional. Ke depan, pemahaman tentang penggunaan teknologi AI dalam penulisan bisa menjadi nilai tambah yang signifikan bagi karir akademik dan profesional dalam bidang apapun di Indonesia.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 21 Agu 2026, 00.06 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)