TLDR
Hidung shrew berkembang selama musim dingin, bertentangan dengan pola penyusutan jaringan lainnya. Fenomena baru ini disebut 'reverse Dehnel's phenomenon' dan menunjukkan fleksibilitas skelet yang lebih kompleks. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami manfaat adaptasi ini bagi shrew di iklim yang berbeda. Pomodo.id - Tikus di Jepang menunjukkan adaptasi unik saat musim dingin dengan membesar bagian hidungnya. Selama musim dingin yang keras, tikus berklaw (Sorex unguiculatus), spesies asli Jepang, mengalami pembengkakan sementara pada moncongnya. Penemuan ini menambah kompleksitas pada pemahaman kita tentang cara hewan kecil mengatasi kondisi ekstrem yang dingin, terutama di daerah bersalju seperti Jepang. Hal ini terungkap dalam penelitian yang diterbitkan pada 19 Agustus di *Proceedings of the Royal Society B*.Peneliti telah lama mengetahui bahwa di musim dingin, beberapa hewan kecil seperti musang, tikus, dan landak mengalami perubahan fisik, di mana jaringan tubuh dan massa organ internal menyusut untuk menghemat energi. Ini berkaitan dengan fenomena Dehnel, yang pertama kali dijelaskan oleh zoologis Polandia, August Dehnel, pada tahun 1949. Dengan meminimalisir jaringan, hewan mengurangi kebutuhan kalori, yang penting ketika sumber makanan terbatas. Namun, pembengkakan pada hidung tikus berklaw ini memberikan pandangan baru tentang bagaimana adaptasi dapat berbeda tergantung pada spesies dan lingkungan.Berbagai penelitian sebelumnya belum menemukan apakah tikus di luar Eropa memenuhi pola perubahan musiman ini, khususnya di Asia Timur, yang terkenal dengan musim dinginnya yang ekstrem. Penelitian terbaru ini melibatkan pengukuran ukuran 136 tengkorak dari spesimen museum tikus berklaw, memberikan bukti bahwa adaptasi musiman ini juga dihadapi oleh hewan-hewan kecil di luar Eropa.Adaptasi ini bukan hanya menarik bagi para peneliti, tetapi juga menunjukkan bagaimana hewan dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Dalam konteks bagi generasi muda di Indonesia, pemahaman tentang adaptasi ini dapat membuka wawasan baru dalam ilmu biologi dan ekologi. Mengingat berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi negara, seperti perubahan iklim dan dampaknya terhadap keanekaragaman hayati, pengetahuan ini dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi dan adaptasi dalam spesies lokal.
Fenomena Dehnel adalah proses di mana hewan kecil, seperti tikus, menyusutkan ukuran tubuh dan massa organ internal mereka saat musim dingin untuk bertahan hidup. Ini membantu mengurangi biaya energi dan memungkinkan mereka untuk bertahan hidup dalam kondisi ketika makanan sulit didapat. Namun, pengembangan pembengkakan hidung pada tikus berklaw di musim dingin menunjukkan bahwa adaptasi bisa lebih kompleks daripada sekedar penyusutan.
Temuan tentang pembengkakan hidung ini dapat memengaruhi cara para ilmuwan mempelajari adaptasi mamalia kecil di lingkungan dengan iklim ekstrem. Bagi generasi muda yang tertarik pada karir di bidang sains dan teknologi, ini memberikan kesempatan untuk mendalami penelitian perilaku hewan dan ekosistem. Dengan meningkatnya perhatian terhadap isu perubahan iklim dan pelestarian spesies, keterampilan dalam memahami adaptasi hewan dapat membuka peluang kerja di bidang riset dan konservasi di Indonesia. Sebagai contoh, pengetahuan ini penting bagi mereka yang bercita-cita untuk terlibat dalam proyek penelitian atau organisasi yang berfokus pada pelestarian alam.Penemuan ini mengingatkan kita bahwa kehidupan di lingkungan ekstrim memerlukan lebih dari sekedar cara bertahan; dibutuhkan inovasi dan adaptasi. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang berbagai cara hewan merespons tantangan lingkungan, kita dapat lebih siap dalam menghadapi tantangan serupa di masa depan, baik dari segi pelestarian maupun penelitian ilmiah.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 19 Agu 2026, 07.07 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)