TLDR
Tiongkok meluncurkan inisiatif untuk mempercepat pengembangan antarmuka otak-komputer. PICC Property and Casualty menjadi perusahaan asuransi pertama di Tiongkok yang menawarkan polis untuk operasi implan BCI. Kenaikan saham perusahaan terkait BCI menunjukkan minat investor yang tinggi terhadap teknologi ini. Pomodo.id - China sedang memanfaatkan semua kekuatan negara untuk mempercepat pengembangan teknologi antarmuka otak-komputer (BCI) dan mengejar Elon Musk. Inisiatif ini muncul di tengah kebangkitan minat terhadap BCI dan upaya untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan kronis dengan memasukkan chip ke dalam otak manusia. Belum lama ini, perusahaan asuransi besar milik negara, PICC Property and Casualty, mengumumkan telah menandatangani polis asuransi komersial pertama di negara itu yang mencakup bedah invasif yang sering diperlukan untuk menanam BCI di otak pasien. Berita ini memicu lonjakan saham perusahaan-perusahaan terkait BCI di Hong Kong, sebagai tanda harapan bahwa terobosan dalam asuransi ini akan mempercepat komersialisasi teknologi tersebut.Kembangkan hasil penelitian dan pemikiran yang lebih lanjut akan wajib diperhatikan. Inovasi dalam penyisipan BCI di China dirancang untuk menjadi lebih minim invasif dibandingkan dengan metode tradisional, yang dapat memerlukan pembedahan otak yang kompleks. Startup seperti StairMed Technology sedang mengembangkan teknologi yang memungkinkan perangkat tersebut dimasukkan melalui pembuluh darah, mirip dengan cara stent dimasukkan, yang mengurangi waktu operasi dan risiko bagi pasien. Sinergi ini didukung oleh investasi lebih dari 1,1 miliar yuan (sekitar Rp 3,5 triliun) yang diperoleh StairMed dari investor besar seperti Tencent dan Alibaba. Proyek ini juga antara lain dilaksanakan dengan kerjasama tim riset dari Akademi Ilmu Pengetahuan China, menunjukkan dukungan platform penelitian untuk inovasi BCI.Namun, ada tantangan yang signifikan dalam percepatan pengembangan BCI. Walaupun inovasi dan dukungan pemerintahan dianggap menjanjikan, jumlah pasien yang akan menggunakan BCI masih relatif kecil. Masalah etika dan keamanan mengenai penyisipan chip otak perlu diperhatikan secara mendalam untuk memastikan bahwa teknologi ini tidak hanya efektif tetapi juga aman. Sebagian besar risiko yang terkait dengan jenis operasi ini membuat beberapa pasien mungkin ragu untuk terlibat, bahkan dengan adanya asuransi.
Antarmuka otak-komputer (BCI) adalah teknologi yang memungkinkan kontrol perangkat digital melalui pikiran manusia. BCI dapat merevolusi pengobatan berbagai kondisi, termasuk kondisi neurologis, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang privasi dan kontrol. Konsep ini menjadi penting karena itulah yang mungkin mendorong perluasan aksesibilitas layanan kesehatan dengan cara yang tidak pernah ada sebelumnya, salah satunya melalui kebijakan asuransi baru.
Ke depan, perkembangan ini berpotensi menunjukkan arah baru di bidang kesehatan di China dan bisa memberikan pelajaran bagi negara lain, termasuk Indonesia, dalam hal penerapan teknologi baru. Jika pengembangan BCI di China berhasil, negara-negara lain mungkin akan dihadapkan pada keputusan tentang adopsi dan regulasi BCI, dan hal ini dapat memengaruhi cara pandang masyarakat global terhadap kesehatan dan teknologi. Di samping itu, dengan potensi nilai pasar BCI yang diperkirakan mencapai $80 miliar (sekitar Rp 1.200 triliun) di AS pada tahun 2035, negara-negara yang ingin mengikuti kemajuan ini harus segera mulai mempersiapkan infrastruktur dan kebijakan dukungan untuk menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi inovasi teknologi.