TLDR
Peneliti di Guangdong mengembangkan sistem navigasi berdasarkan bintang untuk senjata hipersonik. Sistem ini dapat berfungsi tanpa tergantung pada satelit atau stasiun darat. Navigasi berbasis bintang menawarkan ketahanan terhadap gangguan elektromagnetik eksternal. Pomodo.id - Guangdong Aerospace Research Academy di Tiongkok telah berhasil mengembangkan sensor bintang sebagai sistem navigasi untuk senjata hipersonik, yang dapat berfungsi dengan baik meski sistem satelit seperti GPS atau BeiDou terganggu atau gagal. Pengembangan ini menjadi penting, terutama mengingat senjata hipersonik beroperasi dengan kecepatan ekstrem di atas Man 5 dan menjadi aset strategis dalam kompetisi global. Sensor ini memungkinkan sistem navigasi menggunakan gerakan bintang yang dapat diprediksi, sehingga meningkatkan akurasi dalam menavigasi kendaraan pada kecepatan yang sangat tinggi.Prototipe sistem ini telah melewati penilaian akhir oleh para ahli pada tanggal 10 Agustus 2026. Peneliti meneliti bagaimana cahaya bintang dapat membelok pada kecepatan ekstrem, memberikan solusi praktis yang mengandalkan navigasi langit, yang dikenal sebagai navigasi astronomi. Berbeda dengan sistem inersia yang bergantung pada stasiun darat atau satelit, navigasi astronomi sepenuhnya mandiri dan tidak terpengaruh oleh gangguan elektromagnetik eksternal. Ini membuatnya sangat andal dalam situasi di mana sistem berbasis elektronik mungkin tidak dapat berfungsi, seperti saat perang.Namun, ada tantangan dalam penerapan teknologi ini. Meskipun teknologi navigasi bintang dapat diandalkan, pengkodean dan pengolahan data yang cepat diperlukan untuk menjamin efektivitasnya di medan perang. Ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi ini memberikan solusi baru, masih dibutuhkan inovasi lebih lanjut agar dapat sepenuhnya dioptimalkan untuk penggunaan militer yang praktis.Implikasi dari pengembangan ini sangat signifikan. Dengan keandalan sistem navigasi yang tidak bergantung pada infrastruktur eksternal, Tiongkok dapat meningkatkan efektivitas senjata hipersoniknya, yang berpotensi memperkuat posisinya dalam dinamika pertahanan global. Pengembangan ini juga menunjukkan arah yang lebih luas dalam penelitian teknologi militer, membuka jalan bagi inovasi yang lebih tinggi di bidang sensor dan navigasi. Bagi Indonesia, tentunya penting untuk memantau kemajuan seperti ini, sebagai bentuk respons terhadap perkembangan teknologi dan keamanan nasional di kawasan.
Navigasi astronomi adalah metode yang menggunakan posisi bintang untuk menentukan lokasi dan gerakan objek di luar angkasa. Terlepas dari kesan bahwa teknologi ini kuno dibandingkan dengan sistem modern, navigasi astronomi menawarkan akurasi yang tinggi dan independensi dari gangguan elektromagnetik, yang menjadi krusial dalam situasi peperangan di mana ketergantungan pada teknologi berbasis elektronik bisa menjadi risiko. Ini adalah metode yang telah digunakan dalam navigasi laut sebelum diperkenalkannya instrumen elektronik, tetapi kini diadaptasi untuk teknologi canggih yang membantu sistem senjata hipersonik di Tiongkok.
---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 11 Agu 2026, 22.07 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)