TLDR
Dominasi dalam perang masa depan akan bergantung lebih pada berbagi data daripada pada senjata yang mampu. Jaringan sensor-ke-penembak memerlukan integrasi cepat dan efisien dari berbagai platform untuk respons yang efektif terhadap ancaman. Kecepatan pengambilan keputusan sangat penting, terutama dengan munculnya misil hipersonik yang memperpendek waktu respons bagi komandan. Pomodo.id - Lockheed Martin mengungkap bahwa dominasi dalam perang yang akan datang akan lebih bergantung pada berbagi data ketimbang pada senjata yang canggih. Perusahaan ini berpendapat bahwa pertukaran informasi harus dilakukan dengan cepat agar para komandan dapat memahami dan merespons serangan sebelum musuh mendapatkan keunggulan. Konsep ini dikenal sebagai jaringan "sensor-to-shooter," dan Lockheed Martin sedang berupaya mewujudkannya. Dalam jaringan semacam ini, berbagai platform yang berada di ruang udara dan laut berfungsi sebagai simpul dalam sebuah rantai besar yang saling terhubung.Salah satu simpul penting dalam jaringan ini adalah satelit inframerah yang terus mengawasi (OPIR). Satelit ini berperan sebagai penjaga yang memantau area luas untuk mendeteksi tanda-tanda aktivitas mesin misil. Peran OPIR termasuk memberikan peringatan dini mengenai ancaman potensial. Selain itu, sensor lainnya seperti radar, kapal, dan pesawat (seperti F-35) juga akan berkontribusi dalam memberikan data ke dalam jaringan. Misalnya, sensor inframerah dan radar pada F-35 dapat mendeteksi misil dari sudut yang berbeda dan membantu menentukan lokasi, lintasan, serta target yang mungkin disasar.Di pusat jaringan tersebut, terdapat sistem yang disebut Command and Control, Battle Management and Communications (C2BMC) yang berfungsi untuk menggabungkan, menganalisis, dan mendistribusikan informasi sesuai kebutuhan. Dalam kasus peluncuran misil, sistem ini akan membantu manusia untuk menentukan langkah selanjutnya. Dengan ini, keputusan dapat diambil lebih cepat dan lebih tepat, yang diharapkan akan mengurangi risiko saat berhadapan dengan ancaman.Namun, tantangan tetap ada. Mengandalkan kecepatan dan volume data yang harus diproses dapat menciptakan kebingungan atau ketidakakuratan dalam situasi yang sangat tegang. Juga, sistem ini sangat bergantung pada infrastruktur teknologi yang harus selalu diperbarui dan terlindungi dari potensi serangan siber yang dapat mengganggu operasinya. Oleh karena itu, meskipun keuntungan yang ditawarkan jaringan ini sangat signifikan, keberhasilannya akan sangat tergantung pada kemampuan untuk menjaga keandalan dan keamanan sistem.Implikasi dari perkembangan ini sangat besar untuk masa depan konflik militer. Negara-negara dituntut untuk berinvestasi lebih banyak dalam teknologi sensor dan data sharing guna mempertahankan posisi strategis mereka. Lockheed Martin sendiri menekankan perlunya aspek ini untuk mengimbangi perkembangan miliiter di negara-negara lain yang juga berinvestasi dalam teknologi serupa. Hal ini menjadi penting bagi negara berpengaruh seperti Indonesia, yang juga perlu mempertimbangkan strategi serupa untuk meningkatkan keamanan nasional dan mempertahankan keunggulan dalam konteks kerjasama regional atau internasional.
Satelit Overhead Persistent Infrared (OPIR) adalah satelit yang dirancang untuk memberikan pengawasan terus-menerus dengan mendeteksi aktivitas inframerah di area luas. Mereka berfungsi sebagai pemantau ancaman misil dan memberikan peringatan dini kepada angkatan bersenjata. Satelit ini sangat krusial dalam perang modern, karena kemampuan mereka untuk mengidentifikasi ancaman potensial jauh sebelumnya menjadi landasan dari strategi pertahanan yang efektif. Misconception yang umum adalah bahwa satelit ini terfokus hanya pada satu area; sebenarnya, OPIR dapat memantau sejumlah besar area secara bersamaan, mengumpulkan data vital untuk keputusan operasional.