TLDR
Penggunaan shotgun dengan amunisi khusus telah meningkat untuk melawan ancaman drone di medan perang. Amunisi berbasis tungsten lebih efektif daripada peluru timah dalam menjatuhkan drone karena densitas dan kekerasannya. Ada perdebatan mengenai jenis shotgun terbaik untuk penggunaan anti-drone, antara semi-otomatis dan pompa, dengan kecepatan tembak yang berbeda. Pomodo.id - Menghadapi ancaman dari drone First Person View (FPV) yang semakin dominan dalam konflik modern, penggunaan senjata seperti shotgun dan amunisi tungsten menjadi pilihan utama bagi tentara. Dalam situasi pertempuran, drone FPV sering kali menimbulkan risiko besar bagi pasukan darat, dengan angka korban yang meningkat. Drone ini memiliki kemampuan untuk menyerang secara langsung dan dapat sulit untuk dihadapi jika pasukan tidak dilengkapi dengan senjata yang tepat.Amunisi tradisional sering kali tidak efektif saat digunakan melawan drone kecil dan lincah. Dalam konteks ini, shotgun menjadi senjata yang menarik karena kemampuan tembakannya yang dapat menyebar, memberikan kemungkinan lebih tinggi untuk mengenai target yang kecil dan bergerak cepat. Menurut Paul Bradley, seorang ahli balistik dari Beretta Group, peningkatan permintaan untuk shotgun disebabkan oleh kebutuhan untuk meningkatkan peluang prajurit dalam menghadapi ancaman drone. Saat ini, banyak pasukan beralih menggunakan peluru shotgun khusus yang dirancang untuk menghadapi drone, dan senjata semi-otomatis 12-gauge merupakan pilihan yang populer.
Senjata anti-drone, seperti shotgun dengan amunisi khusus, berbeda dengan senjata konvensional karena dirancang untuk menargetkan objek yang lebih kecil. Dalam banyak kasus, tembakan yang menyebar membuatnya lebih efisien dalam menyerang drone dibandingkan dengan peluru tunggal. Dengan meningkatnya kehadiran drone di medan perang, penggunaan jenis senjata ini menunjukkan perubahan cara ketahanan militer dalam menghadapi ancaman yang baru. Senjata semacam ini penting dalam taktik modern, sehingga militer dapat lebih siap menghadapi serangan dari kendaraan udara tanpa awak.
Meskipun shotgun menunjukkan efektivitas yang meningkat, ada tantangan yang harus dihadapi. Hitting drone tetap menjadi masalah, dan meskipun shotgun memberikan peluang lebih baik, tidak ada jaminan hit. Pertempuran melawan drone FPV lebih kompleks daripada yang terlihat dalam representasi media. Meskipun ada video yang menunjukkan kisah sukses prajurit yang berhasil menembak jatuh drone, kenyataan di lapangan seringkali jauh lebih sulit. Ini menyoroti pentingnya pengembangan terus-menerus dalam sistem pertahanan untuk melindungi pasukan di area konflik.Di masa depan, permintaan untuk senjata yang dapat mengatasi drone diperkirakan akan terus meningkat, seiring dengan perkembangan teknologi di bidang pesawat tak berawak. Dengan ansuransinya yang lebih murah, alternatif seperti drone FPV akan terus menjadi masalah bagi angkatan bersenjata, mendorong pengembangan solusi yang lebih efektif. Negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, harus beradaptasi dengan tantangan ini, meningkatkan keahlian dan perlengkapan mereka untuk melindungi pasukan mereka terhadap ancaman yang semakin kompleks ini. Permintaan untuk senjata anti-drone yang efektif akan terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan drone di berbagai medan tempur.