TLDR
Entanglement foton dapat dihasilkan dari sumber cahaya tidak koheren seperti sinar matahari. Penggunaan sinar matahari dapat mengurangi kebutuhan energi dalam teknologi kuantum. Penelitian ini membuka peluang baru untuk pengembangan teknologi kuantum yang lebih efisien dan terjangkau. Pomodo.id - Penelitian terbaru dari Universitas Ottawa di Kanada menunjukkan bahwa entanglement foton — suatu fenomena kuantum di mana dua atau lebih foton menjadi terhubung sedemikian rupa sehingga keadaan satu foton memengaruhi keadaan lainnya, bahkan ketika mereka dipisahkan jarak jauh — tidak harus bergantung pada sumber cahaya yang koheren seperti laser. Sebaliknya, ini dapat dihasilkan dari sumber tidak koheren seperti sinar matahari. Penemuan ini membuka jalan baru dalam teknologi kuantum yang dapat memanfaatkan sumber cahaya yang melimpah dan menghemat energi.Para peneliti telah lama beranggapan bahwa entanglement foton hanya mungkin terjadi dengan cahaya koheren, yang membuat pola yang dapat diprediksi melalui gelombang caha yang tersinkronisasi. Namun, tim yang dipimpin oleh Robert Boyd, seorang profesor fisika dan pakar dalam optik nonlinier kuantum, telah menunjukkan bahwa asumsi ini salah. Dalam eksperimen sebelumnya, kelompok Boyd menggunakan cahaya LED untuk mengeksplorasi konsep ini. Dengan menggunakan sinar matahari sebagai sumber cahaya, mereka berusaha menunjukkan bahwa fenomena penting ini dapat dicapai dengan cara yang lebih hemat energi.Penelitian ini penting karena teknologi kuantum masih berada dalam tahap awal, dan kekhawatiran tentang kebutuhan energi yang tinggi sudah mulai muncul. Biasanya, penelitian kuantum mengharuskan suhu ultra-rendah dan laser yang sangat koheren, yang keduanya sangat memerlukan energi. Oleh karena itu, penemuan bahwa sifat kuantum dapat terjadi bahkan pada suhu ruang membawa harapan baru, di mana penggunaan sumber cahaya alami dapat secara signifikan mengurangi konsumsi energi.Namun, tantangan tetap ada dalam hal konsistensi dan kontrol terhadap sifat-sifat kuantum yang diharapkan dari sumber cahaya yang tidak koheren. Meski sinar matahari adalah sumber energi yang melimpah, variabilitas cahaya yang dihasilkan oleh kondisi cuaca dapat memengaruhi keandalan hasil yang diperoleh dalam eksperimen. Oleh karena itu, lebih banyak penelitian perlu dilakukan untuk mengatasi batasan ini dan memahami sepenuhnya potensi sumber cahaya alami dalam konteks entanglement foton.Konsekuensinya, jika pendekatan ini dapat diperluas dan diverifikasi, teknologi kuantum masa depan berpotensi menjadi lebih hemat energi dan lebih terjangkau. Dengan memanfaatkan sinar matahari, teknologi yang kini terkesan eksklusif dan mahal bisa menjadi lebih mudah diakses bagi penelitian dan industri. Hal ini membuka kemungkinan aplikasi teknologi kuantum di bidang yang lebih luas, dari komunikasi kuantum yang aman hingga pengembangan komputer kuantum yang lebih efisien.Dalam konteks lokal, potensi penerapan teknologi kuantum yang hemat energi dapat menjadi bagian dari upaya Indonesia dalam memajukan teknologi dan inovasi yang bersih dan berkelanjutan. Mengingat tantangan dalam menyediakan energi yang cukup untuk mendukung inovasi teknologi, metode baru berbasiskan sinar matahari dapat menawarkan jalan untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi non-terbarukan.
Entanglement foton adalah fenomena kuantum di mana dua foton atau lebih terhubung sehingga keadaan salah satu mempengaruhi keadaan yang lain. Ini penting dalam pengembangan teknologi komunikasi kuantum yang aman dan pengkomputasian kuantum. Ada anggapan bahwa fenomena ini hanya dapat terjadi dengan sumber cahaya koheren seperti laser, namun temuan terbaru menunjukkan bahwa sumber tidak koheren seperti sinar matahari juga bisa digunakan. Ini meruntuhkan batasan sebelumnya dan menunjukkan potensi untuk pengembangan teknologi lebih lanjut.