TLDR
Bitcoin tidak mengikuti lonjakan pasar saham yang didorong oleh AI dan saham semikonduktor. Permintaan untuk ETF bitcoin tidak stabil, dan diperlukan aliran modal yang konsisten untuk memulihkan permintaan institusional. Ada keyakinan di kalangan trader bahwa siklus halving bitcoin mungkin telah mencapai titik terendah, yang membuat mereka enggan untuk berinvestasi saat ini. Pomodo.id - Ketidakselarasan antara pergerakan Bitcoin dan reli saham di Amerika Serikat (AS) baru-baru ini menunjukkan fenomena yang menarik. Sementara indeks S&P 500 mengalami kenaikan signifikan sebesar 3,12% bulan ini, menambah sekitar $2,1 triliun dalam kapitalisasi pasar dan mencapai total nilai tertinggi sebesar $70,5 triliun, Bitcoin justru stagnan, hanya naik sekitar 2% dan diperdagangkan di sekitar $64.600. Reli saham ini lebih dipicu oleh narasi spesifik terkait saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI), bukan oleh dorongan makroekonomi yang luas yang biasanya menggerakkan aset berisiko seperti Bitcoin.Sejak terjadinya crash awal pandemi Covid-19 pada tahun 2020, Bitcoin cenderung mengikuti pergerakan saham, tetapi kali ini hal tersebut tidak terjadi. Reli saham yang sedang berlangsung didorong oleh sektor-sektor tertentu yang tidak memiliki hubungan langsung dengan Bitcoin, terutama saham-saham yang berfokus pada AI dan semikonduktor. Menurut Adam Haeems, kepala manajemen aset di Tesseract Group, Bitcoin memiliki sedikit eksposur langsung terhadap sektor-sektor ini, sehingga dampaknya kepada harga Bitcoin menjadi minimal.Faktor lain yang berkontribusi terhadap performa buruk Bitcoin adalah harapan yang meningkat bahwa Federal Reserve AS akan menaikkan suku bunga, yang diiringi dengan kenaikan imbal hasil obligasi. Meskipun sentimen positif dari penurunan harga minyak yang dapat muncul akibat normalisasi aliran lewat Selat Hormuz tidak sepenuhnya diabaikan, hal ini lebih menguntungkan saham daripada Bitcoin. Hasil pemantauan juga menunjukkan bahwa tekanan jual di pasar cryptocurrency sebelum ini telah mengurangi jumlah penjualan paksa yang mungkin terjadi, menjadikan posisi Bitcoin lebih stabil di tengah volatilitas pasar lainnya.
Bitcoin adalah mata uang digital terdesentralisasi yang memungkinkan transaksi peer-to-peer tanpa perlu pihak ketiga seperti bank. Dikenal sebagai cryptocurrency pertama yang dibuat pada tahun 2009, Bitcoin beroperasi di atas teknologi blockchain. Kekuatan Bitcoin sebagai aset dapat diukur dari kapitalisasi pasarnya yang besar, memberikan manfaat bagi investor yang mencari alternatif dari aset tradisional. Meskipun sering dianggap sebagai logam berharga digital (“emas digital”), Bitcoin tidak selalu bergerak searah dengan pasar saham yang lebih konvensional, seperti yang terlihat saat ini.Sementara itu, Bitcoin tetap beroperasi dalam kondisi yang lebih tenang dibandingkan dengan tren penurunan di banyak pasar saham. Ketahanan yang ditunjukkan Bitcoin dapat disebabkan oleh posisi pasar yang lebih kuat, meskipun ada berita tentang insiden keamanan baru-baru ini yang melibatkan salah satu dompet perangkat keras Bitcoin, Coldcard. Insiden tersebut mengingatkan investor akan risiko yang masih menyertai investasi di cryptocurrency. Meskipun tidak terpengaruh secara langsung oleh reli saham yang didorong oleh AI, Bitcoin menunjukkan potensi untuk tetap stabil di tengah gejolak yang ada.Dalam konteks masa depan, nasib Bitcoin mungkin akan terkait erat dengan kondisi makroekonomi yang lebih luas dan kebijakan moneter yang diambil oleh Federal Reserve AS. Jika reli di saham dapat bertahan dan menunjukkan pertumbuhan, ada kemungkinan Bitcoin akan menemukan jalannya untuk mengikuti kenaikan tersebut, tetapi saat ini, ketidakpastian macroeconomic membuat masa depan dari Bitcoin tetap menjadi teka-teki.