TLDR
Pendapatan Lilly meningkat 48% pada kuartal kedua, didorong oleh penjualan obat GLP-1. Dronabinol menunjukkan hasil positif dalam mengurangi mimpi buruk pada pasien PTSD. Apnimed berhasil mengumpulkan $192 juta melalui IPO untuk pengembangan obat sleep apnea. Pomodo.id - Lilly baru-baru ini mengumumkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan, terutama dari bisnis obat GLP-1-nya. Dalam laporan pendapatan kuartal kedua, perusahaan mengungkapkan bahwa pendapatan mereka meningkat 48% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi $23 miliar. Kenaikan ini didorong terutama oleh penjualan obat Mounjaro yang digunakan untuk diabetes, yang melonjak 91% menjadi $10 miliar, serta Zepbound untuk pengobatan obesitas yang meningkat 46% menjadi $5 miliar. Selain itu, Lilly sedang mengembangkan obat penurun berat badan generasi berikutnya yang disebut retatrutide, yang diharapkan untuk mendapatkan persetujuan dari FDA pada 2027 setelah menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam uji klinis.
Obat GLP-1, atau agonis reseptor glukagon-like peptide-1, adalah kelas obat yang digunakan untuk mengobati diabetes tipe 2 dan membantu manajemen berat badan. Mereka bekerja dengan cara meniru hormon yang secara alami ada dalam tubuh untuk meningkatkan produksi insulin dan mengurangi rasa lapar. Obat ini menjadi pusat perhatian dalam dunia farmasi, karena tidak hanya membantu pasien dengan diabetes tetapi juga menunjukkan efektivitas dalam penurunan berat badan. Terobosan ini menandai langkah maju dalam perawatan diabetes, meningkatkan kualitas hidup pasien dengan obesitas.
Di sisi lain, terdapat perkembangan lain di dunia pengobatan, yaitu uji klinis yang dilakukan di Jerman dengan obat Dronabinol, yang merupakan bentuk obat yang diproduksi dari THC, zat aktif dalam ganja. Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Nature Medicine, para peneliti menemukan bahwa penggunaan Dronabinol dapat mengurangi "beban mimpi buruk" pada pasien PTSD (gangguan stres pasca trauma). Dari enam pasien yang menggunakan obat ini, lima di antaranya mengalami pengurangan gejala yang signifikan bila dibandingkan dengan kelompok yang menerima plasebo.Di balik semua perkembangan ini, ada tantangan yang harus dihadapi. Meskipun obat-obatan ini menunjukkan hasil yang menjanjikan, ada kekhawatiran tentang aksesibilitas dan regulasi yang mungkin menghambat distribusi obat-obatan ini di berbagai negara, termasuk Indonesia. Selain itu, keberhasilan dalam uji klinis tidak selalu diikuti oleh persetujuan atau adopsi yang cepat di kalangan praktisi medis. Hal ini menunjukkan pentingnya penelitian yang berkelanjutan dan kesadaran akan keterbatasan yang ada.Seiring dengan perkembangan ini, prediksi menunjukkan bahwa pasar kesehatan global akan terus bertransformasi dengan adopsi obat-obat inovatif seperti GLP-1 dan terapi berbasis ganja. Lilly, sebagai salah satu pemimpin dalam industri, tidak hanya berkontribusi pada pengobatan diabetes dan obesitas, tetapi juga mendorong batasan dalam pengobatan PTSD. Ini menggarisbawahi potensi besar untuk penelitian lebih lanjut yang dapat mengarah pada metode baru dalam perawatan kesehatan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 6 Agu 2026, 05.06 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)