TLDR
Kapur karbon sedang bergerak menuju jaringan komersial yang lebih besar. Biaya untuk penangkapan karbon langsung masih tinggi, berkisar antara $800-$1,900 per ton CO2. Kapasitas penangkapan dan penyimpanan karbon meningkat, tetapi banyak proyek tertunda hingga 2035. Pomodo.id - Teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) sedang berpindah dari proyek demonstrasi ke jaringan komersial yang lebih besar. Saat ini, CCUS mencakup penangkapan karbon dioksida (CO2) dari fasilitas industri atau udara sekitar, mengangkutnya untuk digunakan dalam produk seperti bahan bakar dan material konstruksi, serta menyimpannya secara permanen di dalam formasi geologi dalam atau mineral yang stabil. Pendekatan baru seperti Direct Air Capture (DAC), yang menangkap CO2 langsung dari atmosfer, dan Bioenergy with Carbon Capture and Storage (BECCS), yang menggunakan biomassa untuk menangkap dan menyimpan CO2, menjadi solusi yang potensial meski masih mahal dan terbatas dalam skala.Data dari laporan Emissions Gap 2025 yang dikeluarkan oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menunjukkan bahwa tanpa intervensi, pemanasan global dapat mencapai 2,8°C seiring berjalannya kebijakan saat ini, dan 2,5°C meskipun semua janji iklim nasional diimplementasikan sepenuhnya. Pembaruan proyek dari Badan Energi Internasional (IEA) tahun 2026 menunjukkan bahwa kapasitas penangkapan yang beroperasi dan dalam konstruksi meningkat lebih dari 10%, sementara kapasitas penyimpanan tumbuh sekitar 25%. Namun, kapasitas penangkapan total masih mendekati 425 juta ton per tahun, dengan banyak proyek yang mengalami penundaan hingga 2035. Proyek DAC juga tetap mahal, dengan biaya saat ini mencapai sekitar $800-$1,900 per ton CO2.Meskipun teknologi ini menawarkan harapan untuk memperbaiki situasi emisi yang kian mengkhawatirkan, terdapat beberapa batasan yang harus dihadapi. Terutama, biaya yang tinggi dari metode DAC dan BECCS membuatnya sulit untuk diterapkan secara luas dalam waktu dekat. Selain itu, kecepatan pelaksanaan proyek CCUS yang terhambat—dengan banyak dari mereka baru diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2035—menjadi tantangan signifikan terhadap upaya global untuk mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca secara efektif.
CCUS adalah proses yang memiliki beberapa tahapan: pertama, menangkap CO2 dari sumber emisi seperti pabrik; kedua, memanfaatkan CO2 tersebut dalam produk; dan terakhir, menyimpannya dengan aman untuk mencegahnya kembali ke atmosfer. Meskipun teknologi ini dapat membantu mengatasi masalah perubahan iklim, salah satu kesalahpahaman umum adalah menganggap bahwa CCUS adalah solusi tunggal untuk pemanasan global. Sementara CCUS penting, aspek pengurangan emisi langsung dan transisi menuju energi terbarukan harus tetap menjadi fokus utama.Implikasi penggunaan CCUS bisa jauh lebih luas jika berhasil diintegrasikan ke dalam strategi pengurangan emisi global. Proyek-proyek harus dievaluasi berdasarkan biaya dan dampak lingkungan, serta kelayakan jangka panjang penyimpanan karbon. Mengingat meningkatnya kesadaran akan krisis iklim dan pentingnya kekuatan inovasi dalam menghadapi tantangan lingkungan, kolaborasi internasional dalam teknologi CCUS dapat mendorong kemajuan yang lebih cepat. Di Indonesia, mengadopsi teknologi ini dapat memberikan alternatif untuk mengurangi emisi dari sektor industri, sejalan dengan komitmen negara dalam mengatasi perubahan iklim.Ke depan, penting untuk melakukan investasi yang cukup dalam penelitian dan pengembangan CCUS agar dapat mencapai potensi maksimalnya. Dengan pengobatan yang tepat dan kecepatan pelaksanaan yang meningkat, teknologi ini bisa menjadi bagian penting dalam mengatasi tantangan besar perubahan iklim global.