TLDR
Ketidaksetaraan paparan PM2.5 lebih besar antar negara daripada dalam negara. Sebagian besar pendanaan untuk polusi udara terkonsentrasi di negara-negara dengan kualitas udara yang lebih baik. Investasi kecil dalam infrastruktur pemantauan kualitas udara dapat memberikan dampak besar bagi populasi yang sangat terpengaruh. Pomodo.id - Ketimpangan dalam polusi udara global menciptakan tantangan besar bagi kesehatan masyarakat di seluruh dunia, dengan lebih dari satu miliar orang terancam oleh polutan PM2.5. Penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan dalam paparan polusi halus ini tidak hanya terlihat di level regional atau lokal, tetapi juga antara negara-negara di dunia. Dalam rentang waktu 2000 sampai 2020, sejumlah negara mengalami peningkatan ketidaksetaraan yang signifikan dalam paparan PM2.5, yang diukur melalui indeks Gini global, sebuah alat statistik yang menggambarkan distribusi pendapatan atau dalam hal ini polusi. Indeks Gini untuk paparan polusi PM2.5 telah meningkat dari 0,30 menjadi 0,35 pada tahun 2020, menunjukkan bahwa ketidaksetaraan pada paparan polusi ini telah melampaui ketidaksetaraan pendapatan di banyak negara.Penelitian oleh Lutz Sager dari ESSEC Business School menyoroti bahwa meskipun tingkat polusi PM2.5 di Eropa dan Amerika Utara mengalami penurunan, banyak bagian lain di dunia, terutama di Asia dan Afrika, mengalami peningkatan signifikan. Secara khusus, satu miliar orang yang disebut sebagai "billion yang tercekik" hidup dengan tingkat paparan PM2.5 hampir 12 kali lebih tinggi daripada batas rekomendasi yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Batas yang disarankan adalah 5 mikrogram per meter kubik. Mereka yang terpapar pada tingkat ini berisiko tinggi menghadapi masalah kesehatan serius, termasuk penyakit jantung dan gangguan pernapasan.Namun, perkembangan positif juga tercatat di beberapa negara. Beberapa inisiatif untuk mengurangi polusi, seperti regulasi emisi dari kendaraan dan industri, telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Dengan adanya kebijakan lingkungan yang lebih baik, beberapa kawasan di negara maju mulai merasakan perbaikan dalam kualitas udara. Ini mencerminkan harapan bahwa daerah lain dapat mengambil langkah-langkah serupa untuk mengatasi masalah polusi udara yang ada.Peningkatan signifikan dalam ketidaksetaraan paparan polusi PM2.5 mengisyaratkan perlunya tindakan global yang lebih terkoordinasi untuk mengurangi polusi udara. Negara-negara yang paling terdampak perlu mendapatkan dukungan internasional dalam bentuk teknologi dan praktik terbaik, serta kebijakan yang memperkuat kemampuan mereka untuk memerangi polusi. Ke depan, jika pengelolaan polusi tidak ditangani dengan serius, kita dapat mengharapkan lebih banyak masyarakat yang akan terpengaruh oleh kondisi kesehatan yang buruk akibat paparan polutan ini.
PM2.5 adalah partikel halus yang terdapat di udara dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer, cukup kecil untuk dapat terhirup dan menjangkau paru-paru. Partikel ini sering kali berasal dari sumber-sumber seperti kendaraan, pembangkit listrik, dan kebakaran hutan. Penting untuk dicatat bahwa PM2.5 dapat lebih berbahaya daripada polusi udara lainnya, karena ia mengandung campuran bahan kimia berbahaya yang dapat berdampak langsung pada kesehatan manusia. Jika tidak ditangani, eksposur jangka panjang terhadap PM2.5 berpotensi menyebabkan kondisi kesehatan serius, termasuk penyakit kardiovaskular dan penurunan fungsi paru-paru.
Ketimpangan dalam paparan dan dampak polusi tidak hanya merupakan tantangan kesehatan, tetapi juga memengaruhi perekonomian dan pemerataan sosial. Dengan satu miliar orang yang hidup di bawah ancaman polusi PM2.5, kebutuhan akan tindakan segera menjadi semakin mendesak. Jika negara-negara di seluruh dunia tidak berkolaborasi untuk mengatasi masalah ini, dampaknya akan dirasakan tidak hanya di kesehatan publik, tetapi juga dalam aspek-aspek sosial dan ekonomi yang lebih luas.