TLDR
China menjadi pemimpin global dalam inovasi robotika humanoid, menduduki enam dari sepuluh posisi teratas. Meskipun AS memiliki kualitas paten yang lebih baik, China menguasai jumlah portofolio paten yang aktif di bidang robotika humanoid. Data paten dapat memberikan wawasan berharga tentang kepemimpinan komersial di masa depan dalam teknologi robotika. Pomodo.id - China terus memimpin sebagai inovator global dalam bidang robotik humanoid di tengah ketegangan yang semakin meningkat di arena teknologi. Menurut analisis paten terbaru yang dilakukan oleh LexisNexis, perusahaan-perusahaan asal Tiongkok menguasai enam dari sepuluh startup robotik humanoid paling inovatif di dunia. Di antara mereka, Fourier dari Shanghai dan AgiBot menempati peringkat pertama dan kedua, diikuti oleh LimX Dynamics dan Pudu Robotics dari Shenzhen, serta Unitree Robotics dari Hangzhou. Meskipun hanya tiga perusahaan dari Amerika Serikat, yaitu Figure AI, Apptronik, dan Agility Robotics, yang masuk dalam daftar tersebut masing-masing di peringkat keenam, kedelapan, dan kesepuluh, sementara perusahaan Jerman Agile Robots menjadi satu-satunya perwakilan Eropa di peringkat ketujuh.Data menunjukkan bahwa Tiongkok menjadikan dirinya sebagai pemimpin dalam inovasi robotik humanoid, dengan 73% dari total paten terkait morfologi aktif secara global. Selain itu, kekuatan portofolio paten di bidang ini mencapai 63%. Aktivitas paten di Tiongkok juga meningkat pesat dalam sepuluh tahun terakhir, di mana kegiatan paten di sistem interaksi meningkat dua kali lipat dan dalam morfologi tumbuh sekitar 2,5 kali lipat. Hal ini sejalan dengan kebijakan industri yang diprioritaskan oleh pemerintah Tiongkok.Namun, saat Tiongkok mendominasi jumlah paten, paten-paten yang dimiliki AS cenderung memiliki kualitas yang lebih tinggi. Di luar peringkat kuantitas, analisis menunjukkan bahwa hanya 11% dari paten paling berharga di sektor ini berasal dari Amerika Serikat. Ini menunjukkan bahwa meskipun Tiongkok unggul dalam hal jumlah paten, kualitas paten dari perusahaan-perusahaan AS tetap menjadi kekuatan mereka.
Patensi morfologi merujuk pada kategori paten yang berfokus pada desain dan struktur fisik robot humanoid. Tiongkok kini menguasai 73% dari total global paten morfologi terkait robot humanoid, sementara Korea Selatan dan Jepang hanya 11% dan 7%. Dominasi ini mencerminkan upaya pemerintah Tiongkok yang telah menganggap robotika sebagai prioritas strategis dalam rencana lima tahunan mereka yang terbaru, dengan fokus pada pengembangan teknologi yang mendukung robot humanoid.
Saat AS menghadapi tantangan dalam perlombaan inovasi ini, langkah-langkah pemerintah Amerika, termasuk pembatasan terhadap impor teknologi yang berasal dari Tiongkok, dapat memperburuk ketertinggalan mereka dalam banyak aspek. Langkah ini mengambil bentuk larangan terhadap robot-robot baru yang diproduksi di luar negeri, termasuk dari Tiongkok, untuk mengatasi masalah keamanan nasional.Kejadian ini memperlihatkan tantangan yang kompleks bagi masa depan inovasi robotik, baik di Tiongkok maupun di AS. Dengan potensi investasi yang besar dalam industri robotika, inovasi peralatan baru dan bisnis di sektor ini sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi di kedua negara tersebut. Mengingat pertumbuhan dan potensi yang ada, Indonesia juga dapat mencermati perkembangan ini dengan peningkatan ketertarikan terhadap investasi dan teknologi inovatif terutama dalam bidang robotika, yang dapat membantu mendorong industri lokal ke arah efisiensi dan produktivitas yang lebih baik.