TLDR
China mendominasi jumlah paten robot humanoid, terutama dalam morfologi. Paten dari AS memiliki kualitas yang lebih tinggi meskipun jumlahnya lebih sedikit. Kebijakan industri China memprioritaskan pengembangan teknologi robotika sebagai bagian dari rencana lima tahunnya. Pomodo.id - China telah mencatatkan dominasi dalam jumlah paten terkait robot humanoid dalam beberapa tahun terakhir. Menurut analisis dari LexisNexis, negara ini menguasai 73 persen dari total paten robot humanoid yang terkait dengan morfologi, yakni desain fisik robot itu sendiri. Sebaliknya, Amerika Serikat menghadapi tantangan dalam hal kuantitas paten ini, hanya menyamai lima persen dari total yang ada. Meskipun demikian, paten yang berasal dari AS dinilai memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan paten China, dengan 11 persen paten paling berharga berasal dari negara tersebut.Dalam studi yang dilakukan oleh LexisNexis, mereka mengidentifikasi bahwa aktivitas paten di China telah meningkat pesat dalam tiga aspek teknologi utama, yang meliputi sistem interaksi, morfologi, dan kontrol serta perencanaan. Aktivitas paten dalam sistem interaksi meningkat sebanyak dua kali lipat, sementara untuk morfologi meningkat hingga 2,5 kali lipat, dan untuk arsitektur kontrol serta perencanaan melonjak hingga lima kali lipat dalam dekade terakhir. Kenaikan tajam dalam pengajuan paten morfologi mulai terjadi pada 2023, menandakan perubahan perhatian dari penelitian laboratorium menjadi ketertarikan investor terhadap robot humanoid.Meski China mendominasi dalam jumlah paten, kekuatan tetap terletak pada timbangan paten yang lebih tinggi di AS. Rincian ini menunjukkan bahwa kualitas inventif di AS mungkin lebih unggul, meskipun kurang dalam jumlah. Misalnya, Jepang juga mengikuti dengan 10 persen dari paten berharga, sementara pasar paten robot humanoid secara keseluruhan mulai terlihat semakin kompetitif di antara negara-negara seperti Korea Selatan, yang berada di posisi kedua dengan 11 persen.
Inovasi robot humanoid di China menjadi perhatian utama dalam kebijakan industri pemerintah, dimana robotik dianggap sebagai bagian strategis dari Rencana Lima Tahun ke-14 yang diusulkan pada tahun 2021. Fokus ini semakin menegaskan bahwa morfologi, dengan elemen seperti sambungan terintegrasi dan sensor bionik, merupakan bagian krusial dalam pengembangan robot humanoid. Kesiapan China dalam menerapkan dan berinovasi di bidang ini menjadi penting mengingat tren global yang terus berkembang.
Ke depan, dominasi China dalam paten robot humanoid berpotensi berarti peningkatan persaingan global dalam inovasi teknologi. Dengan enam dari sepuluh perusahaan paling inovatif dalam sektor robot humanoid berasal dari China, AS harus mencari cara untuk memperkuat kemampuannya dalam hal teknologi robotik. Jika tidak, potensi ketertinggalan ini terlihat dalam pergeseran fokus dan investasi, baik di sektor swasta maupun kebijakan pemerintah, yang dapat memengaruhi sumber daya dan peluang pada level internasional.Perkembangan ini mengimplikasikan bahwa Indonesia, sebagai bagian dari peta teknologi global, perlu mencermati kemajuan di bidang robotika, terutama robot humanoid yang berpotensi membawa perubahan signifikan dalam industri. Keberadaan inovasi yang berkembang, baik di China maupun dengan kualitas yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan asal AS, menjadi pelajaran berharga untuk memajukan inovasi di negeri sendiri dalam menghadapi tantangan seperti tenaga kerja dan efisiensi industri.