TLDR
Pemerintahan AS membatasi masuknya robot dan inverter daya canggih dari luar negeri. FCC menempatkan perangkat baru pada Daftar Tercakup yang menunjukkan risiko bagi keamanan nasional. Perangkat yang sudah diizinkan tetap dapat dijual, tetapi FCC dapat meninjau kembali persetujuan tersebut. Pomodo.id - Pada 28 Juli 2026, pemerintah Amerika Serikat memberlakukan larangan terhadap robot canggih yang diproduksi di luar negeri, terutama yang berasal dari China. Larangan ini ditujukan untuk melindungi keamanan nasional AS di tengah persaingan yang semakin ketat dalam bidang robotika dan kecerdasan buatan. Melalui langkah ini, Komisi Komunikasi Federal (FCC) menambahkan perangkat robot canggih, termasuk robot humanoid dan robot berkaki empat, ke dalam daftar peralatan yang dianggap terlalu berisiko untuk diotorisasi di pasar AS.Langkah ini mencakup larangan terhadap model baru robot humanoid, robot berkaki empat, serta inverter daya yang terhubung. Inverter ini digunakan untuk mengalirkan listrik melalui panel surya dan sistem penyimpanan di pusat data. PCC menjelaskan bahwa perangkat yang diproduksi oleh luar negeri berpotensi digunakan untuk pengawasan oleh pemerintah asing atau dapat dimanfaatkan dalam serangan siber, yang menunjukkan adanya risiko signifikan terhadap infrastruktur penting AS. Saat ini, pabrikan Cina mendominasi pasar robotika global, menyuplai lebih dari 80 persen robot humanoid yang dikirimkan ke seluruh dunia pada tahun 2025.Meskipun larangan ini tidak sepenuhnya mengejutkan, karena robot modern sering dianggap sebagai sistem sensor bergerak yang bisa diakses oleh pihak luar, Ketua FCC, Brendan Carr, menyatakan bahwa langkah ini juga merupakan kebijakan ekonomi untuk menjaga rantai pasokan kritis di AS. Dalam konteks ini, FCC mengindikasikan bahwa kecerdasan buatan merupakan lini pertahanan baru dalam keamanan nasional, sejajar dengan upaya untuk mengendalikan aliran chip komputer canggih ke China. Namun, produk yang sudah diotorisasi sebelumnya masih dapat dipasarkan, meskipun FCC berhak untuk meninjau kembali persetujuan tersebut di masa yang akan datang.Satu hal yang penting untuk dicatat adalah efisiensi dan fungsi dari robot humanoid yang sedang dalam tahap pengembangan awal. Diperkirakan sekitar 15.000 robot humanoid telah dikirim di seluruh dunia pada tahun 2025, menunjukkan adanya potensi pasar yang signifikan. Namun, dengan adanya larangan ini, pasar AS untuk robot-robot tersebut akan semakin tertutup bagi produsen luar negeri, terutama dari China. Serta, larangan ini diiringi dengan tindakan maskapai penerbangan besar seperti United Airlines dan Delta Air Lines yang melarang penggunaan robot humanoid dalam penerbangan mereka karena kekhawatiran keamanan.
Robot humanoid adalah tipe robot yang dirancang untuk bergerak dan berperilaku seperti manusia. Meskipun masih dalam tahap pengembangan, robot ini menunjukkan potensi untuk digunakan dalam berbagai aplikasi, mulai dari pelayanan hingga operasi berat. Meskipun banyak yang menganggap robot humanoid akan menggantikan pekerjaan manusia, kenyataannya robot ini lebih sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi dan melakukan tugas yang berulang atau berbahaya di lingkungan kerja.
Larangan yang diterapkan pemerintah AS berpotensi mempengaruhi hubungan perdagangan dengan China dan strategi perusahaan-perusahaan teknologi di seluruh dunia. Para pembuat robot di China kini menemukan kendala serius dalam akses pasar terbesar dunia, sesuatu yang mungkin akan mendorong mereka mencari pasar alternatif lain. Dengan gerakan ini, AS memperkuat posisinya dalam perlombaan global menuju dominasi teknologi sambil menunjukkan ketidakpuasan terhadap potensi risiko yang ditimbulkan oleh kepemilikan dan penggunaan robot canggih dari negara lain. Ke depan, perubahan kebijakan ini mungkin mendorong negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk mengevaluasi kebijakan mereka terkait impor teknologi tinggi dan pengawasan terhadap produk yang dapat mempengaruhi keamanan nasional.