TLDR
Fasilitas CNNC Huaxing berhasil menghasilkan listrik menggunakan helium, tanda kemajuan dalam teknologi reaktor nuklir. Sistem siklus Brayton tertutup menawarkan efisiensi energi yang lebih baik dibandingkan sistem terbuka tradisional. Ada pergeseran global menuju reaktor mikro yang menggunakan helium, memberikan fleksibilitas dalam lokasi operasional. Pomodo.id - Cina berhasil melakukan uji coba turbin megawatt yang sepenuhnya menggunakan helium sebagai gas penggerak. Turbin tersebut dibangun oleh CNNC Huaxing, anak perusahaan dari China National Nuclear Corporation (CNNC). Uji coba ini merupakan yang pertama kalinya bagi Cina dalam menggunakan helium untuk menggerakkan turbin berkapasitas tinggi, dan hasilnya memberikan data teknik yang penting untuk memproduksi reaktor gas kecil yang lebih efisien.Sistem turbin ini memanfaatkan siklus Brayton tertutup yang menjebak helium dalam jaringan pipa tertutup. Dengan mendaur ulang gas secara terus-menerus, sistem ini mencegah kehilangan panas dan menjaga tekanan internal yang stabil. Helium, yang bersifat inert secara kimia, tidak akan merusak bagian dalam reaktor meskipun pada suhu ekstrem. Keunggulan lain dari helium adalah kemampuan menyerap banyak panas secara langsung dari inti reaktor. Ketika helium dipanaskan, gas ini akan mengembang dengan cepat, mendorong bilah turbin khusus dengan kehilangan energi yang minimal. Menurut CNNC, pendekatan ini jauh lebih efisien dan stabil dibandingkan dengan sistem siklus terbuka tradisional yang hanya menggunakan dan membuang fluida kerja setelah satu siklus.Meskipun ada manfaat besar dari penggunaan helium, teknologi ini menghadapi tantangan dalam hal biaya dan kompleksitas infrastruktur. Pembangunan pipa dan sistem kontrol untuk menangani helium memastikan bahwa teknologi ini tidak hanya efektif tetapi juga ekonomis dalam jangka panjang. Ini menjadi penting karena reaktor yang lebih efisien dapat membantu memenuhi kebutuhan energi masa depan, dan dapat menjadi model bagi negara lain yang hendak mengembangkan teknologi serupa.Pengembangan turbin ini dan penggunaan helium membuka jalan untuk era baru dalam sistem pembangkit listrik, khususnya dalam aplikasinya di reaktor gas kecil yang dirancang untuk meningkatkan pemanfaatan energi. Dengan meningkatkan efisiensi dan stabilitas, teknologi ini dapat berkontribusi pada pengurangan emisi karbon dioksida dan membantu menciptakan salah satu solusi energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Helium adalah gas mulia yang ringan dan tidak reaktif secara kimia, sering digunakan dalam berbagai aplikasi termasuk balon dan teknologi tinggi. Dalam konteks reaktor nuklir, helium memiliki keuntungan signifikan, yaitu tidak akan merusak komponen reaktor bahkan pada suhu tinggi. Meskipun helium sering dianggap sebagai gas yang hanya digunakan untuk balon, kemampuannya dalam menyimpan panas menjadikannya kandidat yang ideal untuk sistem yang memerlukan transfer panas yang efisien.
Keberhasilan Cina dalam uji coba ini dapat memberikan inspirasi bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk mengeksplorasi potensi penggunaan helium dalam teknologi reaktor masa depan. Dengan pertumbuhan kebutuhan energi yang terus meningkat, inovasi ini bisa menjadi bagian dari solusi yang lebih luas dalam pengembangan energi bersih yang lebih efisien.