TLDR
Xi Jinping menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam pengembangan kecerdasan buatan. Tiongkok semakin agresif dalam inovasi AI, dengan banyak produk baru yang diluncurkan di WAIC. Ada peningkatan signifikan dalam penggunaan AI di Tiongkok, dengan pasar yang diperkirakan tumbuh lebih dari 30 persen tahun ini. Pomodo.id - China mendorong kolaborasi global dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI), menekankan bahwa perkembangan AI tidak seharusnya didominasi oleh satu negara. Hal ini disampaikan oleh Presiden Xi Jinping saat membuka konferensi World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di Shanghai. Dalam pidatonya, Xi menegaskan pentingnya kerjasama internasional, menyatakan bahwa pengembangan AI harus menjadi "simfoni kolaborasi" antara negara-negara, dan menolak pandangan yang menempatkan keamanan satu negara di atas yang lain.Di WAIC, China menunjukkan kemajuan dalam teknologi AI, termasuk model-model AI yang semakin kompetitif dibandingkan dengan produk-produk terkemuka dari AS. China berkonsentrasi pada pengembangan berbagai aspek AI, mulai dari model dasar, chip, robot, hingga perangkat konsumen. Konferensi ini menarik perhatian lebih dari 1.000 peserta dari berbagai industri, mencerminkan pentingnya acara ini dalam memahami arah perkembangan industri AI di China. Selain itu, Beijing memprioritaskan kemandirian teknologi di tengah ketegangan dengan negara-negara lain, terutama AS, yang memberlakukan berbagai batasan terhadap akses China ke chip dan teknologi canggih.
Pentingnya Kolaborasi Global
Dalam konteks ini, kolaborasi global berarti kerja sama antara negara dalam mengembangkan teknologi AI secara etis dan aman. Kolaborasi ini berusaha menciptakan standar internasional untuk penggunaan AI, termasuk dalam hal keamanan, untuk mencegah penyalahgunaan oleh hacker atau dalam konteks militer. Memahami bahwa tidak ada satu negara pun mampu memastikan keamanan dan etika dalam pengembangan AI, kolaborasi semacam ini menjadi semakin penting seiring mempercepatnya inovasi teknologi di seluruh dunia.
Meskipun langkah China menuju penguasaan AI mencerminkan ambisi yang kuat, ada tantangan signifikan yang harus dihadapi. China harus berurusan dengan batasan yang diberlakukan oleh AS dan negara-negara lain dalam hal ekspor teknologi, yang dapat menghambat aksesnya ke perangkat keras yang diperlukan untuk pengembangan AI yang lebih canggih. Banyak kritik muncul mengenai usaha China untuk mempromosikan model AI sumber terbuka di luar negeri, yang disebut-sebut bertujuan untuk menjebak negara-negara lain dalam ketergantungan teknologi.Implikasi dari mendorong kolaborasi ini adalah bahwa China berusaha untuk memastikan manfaat dari perkembangan AI dapat diakses oleh lebih banyak negara berkembang. Dengan menekankan perlunya kolaborasi dan pertukaran pengetahuan, memiliki potensi untuk mengurangi kesenjangan dalam adopsi teknologi antara negara maju dan negara berkembang. Jika kolaborasi berhasil, ini dapat menghasilkan pendekatan yang lebih inklusif terhadap teknologi baru, memungkinkan negara-negara untuk berpartisipasi aktif dalam ekonomi digital global.Artikel ini disintesis dari 2 sumber.